Wednesday, February 26, 2014

Untuk Sesuatu yang Lebih BESAR

banyak-manusia


Ntah bagaimana indahnya rencana Allah merenjatku dalam jalan ini. Jalan2 yang dulu kupikir selalu memusingkan, tidak keren, gerak terbatas, dllsb. Heran pula mengapa aku mengiyakan, menuruti segala permintaan kakak2 yang lebih tua untuk hadir ini itu, datang ke sini ke situ, dan seterusnya. Ingat pula kata-kata kak Refi yang intinya seperti ini: "ketika kita ditakdirkan atau memang benar2 akan berada di jalan ini, sekalipun kita terpeleset ujung-ujungnya kita akan kembali lagi ke jalan yang sama."

Jika tak Se-Ideal kita?

Ketika kita telah ada dengan ikhlas atau pun terpaksa, bukan tidak mungkin ke-Idealis-an kita merogoh celah kesalahan 'rumah' kita. Ntah dindingnya yang retak, atapnya yang bocor atau lantainya yang licin. Bagaimana pun itu, segala kekurangan yang ada, dari 'anggota keluarga' kita atau pun dari 'tetangga' kita. Bukanlah kebaikan jika hanya ditimpali dengan cerca dan keengganan. Semuanya adalah hadiah 'tantangan' yang Allah beri untuk mendewasakan kita yang cilik-cilik agar semakin tumbuh besar dan tegar. Termasuk tantangan terbesar era kita yang sebenarnya justru ada di internal kita: membangun hubungan yang solid dan harmonis di internal dakwah kita.

Dalam buku Menuju Kemenangan Dakwah Kampus, Ahmad Atian mengatakan hal ini: "Jika tantangan kita kemarin adalah bagaimana memunculkan sosok-sosok luar biasa ke tengah kerumunan massa, maka hari ini tantangannya adalah bagaimana kita mampu mewujudkan kerja sama yang kokoh dan solid antara orang-orang besar dalam internal kita.Jika tantangan kita kemarin adalah bagaimana merebut kursi kepemimpinan, maka tantangan hari ini adalah bagaimana memberikan yang terbaik ketika kita berada di kursi kepemimpinan tersebut. Jika tantangan kita kemarin adalah bagaimana mampu memenangkan prinsip dan fikrah kita, maka hari ini kita lebih wajib untuk mampu berinteraksi dengan berbagai fikrah dan menerima kebebasan berprinsip."

Dari penjelasan tersebut yang semestinya kita pahami adalah mengusahakan diri kita sebagai 'individu dewasa' terlebih dahulu sebelum menuntut banyak hal di luar kita dan berbuat banyak untuk di luar kita. Bagaimana mampu memberi jika dari diri kita sendiri belum terpenuhi kapasitasnya?

Ketika misalnya kita menjadi leader dalam suatu acara yang kita selenggarakan bersama mungkin ada suatu 'kekesalan' terhadap saudara kita yang lain yang kesungguhannya diragukan atau beragam hal lain yang kita tuntut dari mereka. Tapi bukan seorang yang dewasa jika kita menjadikan hal tersebut sebagai 'alasan' untuk tidak terlibat lagi atau malah keluar.

Jika kita memiliki nilai idealisme, maka sewajarnya kita yang menghadirkan idealisme itu hadir dalam 'rumah' kita. Kitalah yang sewajarnya melapangkan hati menerima kekurangan mereka, memberanikan diri untuk menegur mereka untuk kebaikan mereka dan mengutamakan transparansi daripada menyimpan dalam hati. Kita pula yang sewajarnya mendo'akan kebaikan berlimpah menghampiri saudara-saudara kita. Hati kita terlalu sempit untuk menyimpan segenggam kesalahan saudara sendiri. Padahal masih banyak kepekaan hati yang diperlukan untuk mengurus permasalahan yang jauh lebih besar. Kenapa mesti gusar? Bukankah hanya Allah zat utama yang membolak-balik hati seorang hamba? Maka lunasilah kekesalan hati dengan meminta kepada Sang Penguasa Hati :)

Alangkah indahnya jika kita berfokus pada titik yang lebih luas untuk membangun peradaban yang lebih besar. Dengan niat2 yang besar, tidak sekadar suksesnya acara ini itu- berhasilnya ini itu tapi ruang capaian yang lebih luas yang bisa jadi Allah kabulkan tanpa kita ketahui.

Ingin rasanya kita semua memiliki niatan besar yang sama untuk melakukan hal-hal besar terbaik karena Allah. Membangun peradaban yang lebih matang dan kokoh. Semoga.

0 komentar:

Copyright © 2014 Mahdiah Maimunah