Tuesday, February 10, 2015

Belajar dan Menjadi Pembelajar #1

.com/blogger_img_proxy/

Ada korelasi yang kuat antara belajar dan menjadi pembelajar. Ketika memutuskan diri untuk belajar maka seyogyanya kita juga memutuskan untuk menjadi seorang pembelajar. Belajar saja akan membuat kita lelah dan frustasi. Mengapa? Karena kita hanya menghantam aspek-aspek pencapaian umum dan normatif. Nilai yang tinggi, paham materi kompetensi, menjadi yang terbaik, mengumpulkan sebanyak mungkin prestasi. Maka, wajar saja lelah. Kadang di tengah-tengah lelah dan sulit kembali untuk memulai. Menyedihkannya lagi jika definisi  belajar hanya berlangsung di sarana kelas-kelas sekolahan atau perkuliahan. Oleh karena itu, bukan tidak mungkin kemurnian nilai kini sudah sangat diragukan. Nilai-nilai kehidupan pun mulai compang-camping karena memenuhi ambisi para akademisi.

Siapa pun mungkin pernah mengalami naik turun indeks prestasi. Kejadian tersebut, bagi seorang pembelajar pertama akan siap belajar untuk bersabar. Setelah menarik napas dalam-dalam, kita belajar memilah-milih hal-hal apa yang membuat prestasi kita baik seperti fasilitas, semangat, catatan yang lengkap, dosen yang menarik dan hal lainnya. Pun kita juga jadi tau sebab-sebab penurunan semangat belajar yang akhirnya berimbas ke nilai kita. Begitulah seorang pembelajar.

Baiknya lagi pembelajar mau belajar tak hanya di kelas2 formal. Kejadian sehari-hari pun sesungguhnya juga merupakan sarana pembelajaran. Bayangkan saja, bagaimana cara kita bisa ikhlas kalau tidak pernah diberi ujian penghinaan terhadap karya kita misalnya. Atau bagaimana bisa kita mau belajar tapi semasa hidup tidak pernah diberi ujian yang berat. Terlebih lagi, bagaimana kita bisa tau sesuatu kalau kita ga mencoba merasakan sendiri atau mencari tau.

Belajar itu sesungguhnya adalah kombinasi mengenal diri dan menyesuaikan kondisi. Kita paham misalnya kita males banget buat baca materi kuliah yang sejibun. Sukanya lihat gambar-gambar yang bagus. Ya sudah, kita belajar dari gambar saja dulu untuk mengawali ketertarikan terhadap suatu materi, nanti kalau ada bagian dari gambar yang tidak dimengerti ujung-ujungnya kita juga bakal cari bahan lain seperti video atau minta dijelasin temen atau alternatifnya: Baca sendiri. Hehehe. Nah, ga mau bacanya pun harus kita akalin. Karena kita juga harus nyesuain kondisi kalau sebagai mahasiswa kita mesti banyak baca. Ga mungkin dong selamanya yang kita butuhin selalu tersedia dalam bentuk visual yang menarik. Temen-temen kita juga ga selamanya bisa bantuin hal-hal yang ga kita ngerti. Iya kan? 

Terus gimana caranya biar bisa baca banyak dan suka baca? Kalau saya tipikal orang yang kalau baca harus ada feelnya, atau tau tujunnya sedang mencari apa. Kalau ngikutin alur bukunya dari halaman pertama sampai akhir bagi saya sangat sulit. Akan lebih banyak ngantuknya. Karenanya saya akali dengan membuat list pertanyaan dari suatu masalah. Misalnya lagi belajar tentang  myeloproliferatif disorder. Nah, nanti saya bakal buat list pertanyaannya di otak saya atau saya tuliskan kalau banyak. Myeloproliferative itu apa sih? Ada berapa tipe? Ngebedain tipenya gimana? Menegakkan diagnosisnya ada kriteria tertentu ga? Harus berapa dari berapa? Terus kalau lihat pasien, pasiennya bakal gimana? dll seterusnya. Lebih enak kalau sudah ada kuliahnya.

Kalau baca buku selain buku pelajaran saya suka tanya ke diri saya dulu. Kamu butuh bahan apa sekarang? Baca buku self improvement, baca buku sejarah? Hiburan? Berbau-bau islami ? Nanti dari buku2 yang baca saya pilih-pilih lagi judulnya. Kalau yang udah pernah saya lebih memilih tema lain. Iseng sih. Tapi mengawali kesukaan itu penting. Nanti kalau sudah suka, tau triknya lebih nyaman dan semangat buat istiqamah.


0 komentar:

Copyright © 2014 Mahdiah Maimunah