Tuesday, May 1, 2012

Menjadi Pemula, Menjadi yang Pertama

Belajar+Bisnis+Online+Bagi+Pemula


Sore ini, sepulang dari rapat kampus, aku kembali ke rumah dengan menaiki angkot. Dari kampus, aku menaiki angkot putih. Kemudian berhenti di Simpang Pagar Dewa dan kemudian menyambung perjalanan dengan menggunakan angkot biru. 

Tak disangka, saat baru menaiki angkot biru, sepertinya aku mengenal orang yang berada persis di depan pintu. Oh ya, aku ingat, dia ibu temanku. 

Aku pun bergegas masuk agar tak membuat kendaraan di belakang angkot ini macet. Dan tempat yang kupilih sebagai posisi duduk, adalah tempat yang bersebelahan dengan ibu temanku. Beliau ini sebenarnya juga teman akrab ibuku. Jadi singkatnya, anak berteman dengan anak dan ibu berteman dengan ibu.

Sepanjang perjalanan, kami bercerita banyak tentang aku, anaknya dan kampus. Hingga tibalah saatnya beliau mengatakan bahwa anaknya -sebut saja yang beliau panggil kakak- ingin pindah dari universitas yang sekarang ditempuhnya ke universitas yang sama dengan adeknya -keduanya kembar. Alasannya adalah karena lingkungan perkuliahannya tidak terlalu mendukung bakat kepenulisannya.

Ya, saya yakin sekali memang, di satu sisi kita membutuhkan lingkungan yang sesuai dengan kemampuan bakat yang kita miliki. Tapi di satu sisi yang lain, jika setiap orang hanya menginginkan berada di lingkungan yang sesuai untuk menajamkan bakatnya tanpa memulai dari lingkungannya sendiri, selamanya yang tersentuh akan tetap tersentuh dan yang tidak selamanya tidak akan terjamah bila tidak ada yang memulainya.

Dan inilah kunci permasalahan di negeri kita. Dalam kasus yang serupa bahkan telah banyak kita temui dalam permasalahan lapangan pekerjaan. Semua orang berbondong-bondong seperti ingin melakukan 'pengabdian kepada negara' dengan menjadi pegawai negeri sipil. Kehidupan masa tua terjamin katanya. Belum lagi status sosial yang kini memandang PNS adalah pekerjaan terhormat. 

Padahal, ada banyak jalan menuju Roma. Tidak hanya dengan menjadi PNS kita bisa. Tidak hanya dengan mengikuti apa yang sudah ada saja. Seharusnya kita berani untuk memulai sendiri. Berani menjadi kunci pelopor. Menjadi orang yang menggerakkan, bukan yang digerakkan. 

Saya jadi teringat kisah Sang Pelayar Columbus dalam suatu pesta besar setelah keberhasilannya menemukan Benua Amerika. Di pesta itu, tidak hanya dihadiri oleh orang-orang yang simpati dengan keberhasilannya, tetapi juga orang-orang yang iri. "Ah, kalau hanya sekadar menemukan pulau, kami juga bisa.", ucap mereka.

Berita ini pun sampai ke telingan Columbus. Maka kemudian ia mengadakan sayembara bagi para undangan untuk menegakkan telur rebus di atas meja. Barangsiapa yang berhasil, Columbus berjanji akan memberikan kekayaan yang dimilikinya.

Satu persatu tamu undangan pun mencoba membuat telur rebus itu berdiri di atas meja. Namun tidak seorang pun yang membuat telur tersebut berdiri selama satu jam. Tamu undangan pun mulai panas dan kesal. Mereka berkata, "Apakah kamu ingin mengerjai kami Columbus??"

Columbus pun kemudian berkata, "Baiklah, sayembara berakhir sampai di sini dan kalian akan menyaksikan bahwa aku mampu membuat telur ini berdiri.". Columbus pun kemudian mendirikan telur rebusnya di atas meja dan menekan sisi bawahnya hingga sedikit remuk. Akhirnya telur itu pun dapat berdiri.

Orang-orang di sekitarnya kecewa. "Kalau hanya itu yang kamu lakukan, kami juga bisa."
Columbus kemudian menjawab sambil tersenyum ringan, "Kalau begitu, mengapa tidak kalian lakukan..?????"

Yaa.... Itulah kebanyakan dari kita yang lebih senang meniru dan melanjutkan apa yang telah dilakukan oleh orang lain. Padahal kita telah diberi kesempatan untuk memulainya. Kita terlalu takut untuk menjadi pemula dan menjadi owner terhadap apa yang kita lakukan lebih awal. Kita berpikir bahwa kita harus mendapatkan yang terbaik dari keterbatasan kita, sehingga kita agaknya lebih terpeseona untuk menikmati daripada memberi.

Padahal, keterbatasan itu bukanlah akhir dari cerita mimpi kita, bukan pula penghujung yang meredam segala obsesi kita. Karena sesungguhnya keterbatasan itu telah memberi jalan bagi kita untuk menjadi kunci pelopor yang memulainya/ Sebagaimana sesuatu yang dahulunya tiada kini telah menjadi ada. Maka, tidak ada salahnya jika kita yang mencoba terlebih dahulu.... :D

Salam Pemula Temaan....!!! 

7 komentar:

Sam said...

Seperti kata teman saya, 'setiap keterbatasan bisa dikalahkan oleh sebuah tekad', dan sepertinya 'pemula' pun begitu...

arman rachim said...

baca awalnya, saya pikir akan banyak bercerita tentang curhatan ibu sampai paragraph terakhir.
tapi ternyata ada selingan kisahnya juga...
jadi tidak bosan baca tulisannya..

belajar dari kisah terdahulu akan memberikan tambahan pengetahuan. dan memberikan dorongan untuk terus maju.

salam
ditunggu cerita menarik lainnya..

Mae said...

@bang sam: yaap... Saya setuju bang sam...

@arman rahim: Hehe,, curhatan ibunya saya potong, karena tema nya berbeda2 menurut saya. Nanti insyaAllah ad curhatan dari ibu yang sama di lain posting..

Wina Zhonniwa said...

waah, iya banget tuh. kenapa ya kok aku sering takut memulai? #lho.
mungkin krn takut dipersalahkan atau di ejek. bisa dibilang kurang PD padahal aku yakin aku tau caranya. tapi begitu di skak, aku gk ada argumen yg keluar--"

Mae said...

@wina: waduuh,, jangan taku-takut lagi saay.... ntar kpan majunya negara kita ;-)
*nyemangatin diri sndiri juga*

Akhmad Muhaimin Azzet said...

banyak orang yang beranggapan, justru memulai itu hal yang tidak mudah; benarkah? bukankah ketika kecil dulu kita tidak pernah berpikir sulit ketika melangkahkan kaki yang pertama kali; mulai... ya, mulai begitu saja....

Mae said...

yap..!!! saya setuju Mas Akhmad. Ketika kecil dhulu kita jga tdk prnah brpikir bhwa belajar berbicara itu sulit, dan juga hal-hal yg lainnya.. Nah.. Brarti formula untuk brani memulai adalah dengan menjadi anak kecil ya...

Copyright © 2014 Mahdiah Maimunah