Showing posts with label kedokteran. Show all posts
Showing posts with label kedokteran. Show all posts

Monday, August 7, 2017

Konsep Sehat dan Sakit di Dalam Islam

Related image

Sehat memiliki makna yang tidak hanya mengandung arti sehat secara medis, namun juga sehat di bidang lainnya. Banyak kejadian pasien-pasien yang merasa dirinya sakit namun setelah dilakukan pemeriksaan tidak ditemukan hasil apa pun. Sehat selain medis juga seharusnya diikuti sehat secara spiritual, emosional, sosial, dan intelektual. Seorang muslim sebaiknya memiliki kehidupan yang sehat di segala sisi.

Di dalam kisah dan bahkan kehidupan sehari-hari kita dapat menemukan kisah mengenai keajaiban alias miracle. Namun, kejadian ini memiliki presentase yang sangat kecil dibandingkan sesuatu yang logis. Konsepsi logic vc unlogic ini semestinya dimaknai "Jika yang tidak logis saja Allah bisa menjadikan hal itu sebagai kenyataan, apalagi sesuatu yang logis?"

Begitu juga kaitannya dengan usaha untuk berobat ketika seorang muslim diberikan sakit, meskipun kita tahu bahwa Allah lah yang akan memberikan kesembuhan kepada kita. Seperti di dalam surat asy-syu'aro ayat 80: Faidza maridhtu fa huwa yasyfiin.. ("Dan apabila kamu sakit, maka Dialahyang menyembuhkan").

Namun tahukah, di dalam surat Al-Anbiya' ayat 83-84 berisi kisah tentang Nabi Ayyub yang diminta berusaha untuk menyembuhkan sakitnya dengan cara menghentakkan kakinya di bumi, kemudian mandi dan minum dari air tersebut. Artinya, Allah ingin mengajarkan melalui Nabi Ayyub agar ada effort yang dilakukan untuk mencapai kesembuhan.

"dan Ingatlah kisah Ayub, ketika Dia berdo'a kepada Tuhan Nya, 'Ya Tuhanku, sungguh aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.' . Maka Kami kabulkan (do'a) nya, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan (Kami lipatgandakan jumlah mereka), sebagai suatu rahmat dari Kami, dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Kami."

Lalu, bagaimana sikap seorang muslim ketika ditimpa sakit?

"Tidak ada yang menimpa seorang muslim berupa kepenatan, sakit yang berkesinambungan (kronis), kebimbangan, kesedihan, penderitaan, kesusahan, hingga tertusuk duri melainkan dengan itu Allah akan menghapus dosanya." (HR.Bukhari)

Apa sih makna sakit dalam Islam?
- Sebagai cobaan
- Suatu peringatan atas dosa-dosa dan kesalahannya sehingga ia dapat kembali ke Allah
- Cara menghapus dosa manusia
- Hadiah dari Allah

Semoga kita semua adalah hamba-hamba Nya yang sabar dan tetap semangat berusaha dan terus berdo'a ketika sakit menghampiri kita. 

Referensi gambar:
http://www.drscottgraves.com/wp-content/uploads/2013/04/good-health-bad-health_full.jpeg

Mahasiswa Kedokteran: Baca Textbook vs Baca Qur'an

Image result for textbook vs quran

Ini tahun kedua saya di dunia koas. InsyaAllah 0,5 tahun lagi masa ini akan berakhir. Nah, pada kesempatan kali ini saya sedang menjalani stase dokter muslim. Satu-satunya stase yang sepertinya hanya ada di UIN.

Di hari pertama ini, kami diberikan kuliah mengenai Kontekstualitas Al-Qur'an sebagai Sumber Hukum Islam dan Konsep Sehat dan Sakit dalam Perspektif Islam. Alhamdulillah diberikan kesempatan menekuni ilmu kedokteran sekaligus juga diberikan tentang ilmu keislaman.

Ada yang menarik saat pemateri kami, Ibu Syahidah Rena, M.Ed memberikan kuliah di tema kedua. Saya itu ia bercerita tentang salah seorang anggota keluarganya (lupa sepupu atau keponakan beliau) yang sedang menempuh pendidikan kedokteran. Mulanya beliau mengamati bahwa anak tersebut sangat jarang keluar kamar karena terus menerus membaca textbook kedokteran yang banyak dan tebalnya tak terkira. Sekalinya keluar kamar, pasti marah-marah (kayak gue ga ya?). Keesokan harinya beliau bertanya, "Dek, kamu udah baca qur'an belom?"

Jawabannya adalah: "Hehehe.."

Bisa dipastikan maksudnya apa? Yaa, tentu saja belum membaca, wkwk.

Kemudian Bu syahidah memberikan pengertian kepada anak tersebut kurang lebih seperti ini: Kamu pikir Allah ga tahu buku-buku dan ilmu yang kamu pelajari? Tentu saja semua ilmu itu datangnya dari Allah kan? Kalau kamu mau bisa paham ya mintanya ke yang punya ilmu. So, mulai sekarang, sempat ga sempat kamu harus tetap baca Qur'an. Karena Qur'an dari Allah, textbook yang kamu baca itu hanya sedikit saja dari isi Al-Qur'an ini. 

Lebih lanjut, beliau juga menjelaskan kepada kami bahwa ketika kita ingin memperoleh ilmu kita tidak boleh bersandar kepada akal kita. Akal kita hanya sebagian kecil dari yang kita miliki dan itu sangat kecil di mata Allah. Kalau kita ingin dimudahkan ilmunya, maka kita perlu meminta dengan keinginan yang kuat kepada Allah. Kata Bu Syahidah, adalah kebohongan jikalau kita berhajat tapi kita tidak mau melaksanakan sholat tahajjud. Bukankah seorang yang memiliki keinginan kuat itu dia akan memiliki semangat yang besar dan akan benar-benar serius untuk meminta?

Waah.. benar juga. Kita sering banget beralasan menduakan qur'an dari banyaknya materi yang harus kita kejar. Padahal Allah yang punya ilmunya. Kita seringkali lupa minta sama Allah, lupa juga baca qur'annya :(

So, mulai sekarang kamu sebagai mahasiswa kedokteran dan sebagai muslim, sekecil apa pun berusahalah untuk membaca al-qur'an. Tidak ada istilan textbook lebih utama dari Al-Qur'an ya. Lebih bagus lagi jika kita mau membaca artinya. Ingat, akal kita bukan sandaran untuk bisa mendapatkan ilmu. Sedikit saja jika Allah ingin merusak akal kita maka itu amat mudah bagi Nya. Semangat membaca qur'an.. Semoga keberkahan menaungi setiap aktivitas kita.

Reference:
http://a57.foxnews.com/images.foxnews.com/content/fox-news/opinion/2016/01/29/lawsuit-public-school-forced-my-child-to-convert-to-islam/_jcr_content/par/featured-media/media-0.img.jpg/876/493/1454081701684.jpg?ve=1&tl=1

Saturday, March 11, 2017

Tips Belajar di Kedokteran #Seri2

Related image

Lanjut yah tentang gimana carannya belajar di kedokteran. Jadi kalau di plot ada dua step yang akan dilalui oleh seorang mahasiswa kedokteran, yaitu tahapan preklinik dan klinik. Di sesi ini akan saya bahas bagaimana pembelajaran di tahapan preklinik terlebih dahulu. Tahapan preklinik adalah masa-masa dimana kita belajar di kampus layaknya mahasiswa lainnya. Yang agak berbeda, sistem pembelajaran di kedokteran baru-baru ini menggunakan sistem belajar PBL alias Problem Based Learning. 

Jadi kita di awal pekan akan diberikan kasus terkait modul yang sedang kita jalani kemudian kita mencari rumusan pertanyaan yang perlu kita ketahui dari kasus tersebut dan mencari sendiri jawabannya. Nah, nanti apa-apa yang kita temukan dari berbagai referensi (harus referensi yang terpercaya dan 10 tahun terakhir loh) akan didiskusikan bersama-sama teman satu tim kita. Sembari berdiskusi kasus, di akhir diskusi kita akan menyelesaian sebuah peta konsep dari problem yang diberikan sebelumnya dan akan dipresentasikan di depan kelas dan diguiding oleh narasumber di bidangnya. Seru kan? wkwkwk

Plus minus dari pembelajaran dengan cara ini adalah:

Positif:
- Lebih ingat materi karena mencari sendiri dan berpikir sendiri
- Menemukan kebenaran bersama-sama dengan cara diskusi dan saling sharing

Negatif:
- Tergantung individu. Kalau malas suka ngga dapat apa-apa
- Sulit mencari referensi
- Wawasan antar individu bisa beragam pencapaiannya
- Terkadang didominasi oleh orang-orang yang aktif 

Dengan pembelajaran metode ini sebetulnya mahasiswa jadi dituntut lebih aktif dibandingkan gurunya. Jadi ya individual based juga sih bisa dibilang. So, butuh effort yang kuat dari individu yang pasif untuk mengimbangi teman-temannya dan belajar berani berbicara. Tapi tetap butuh kesadaran juga bagi yang aktif agar lebih permissif kepada teman-teman yang aktif agar bisa mendorong dan memberikan ruang bagi teman-teman yang pasif untuk berbicara. Karena terlalu mendominasi juga masuk kriteria negatif dalam penilaian selama diskusi. Selain kesediaan teman-teman yang aktif, sebetulnya ada peran tutor dalam diskusi yang mendorong agar diskusi yang berjalan aktif dari semua peserta diskusi.

Bagaimana sih agar kita bisa mengikuti diskusi dengan baik? 

- Kuasai ilmu-ilmu dasar kedokteran yang terkait dengan modul saat itu. Misal nih kamu lagi modul pencernaan. Berarti kamu harus paham anatomi dan fisiologi organ-organ pencernaan, penyakit apa saja yang sering dialami (baca SKDI) dan akan ditangani oleh dokter umum tentunya, bagaimana patologi anatomi, mikro dan parasitologi terkait pencernaan dan obat-obatan yang berkaitan dengan pencernaan. Pelan tapi pasti aja, jangan keburu stress. Kalau kamu udah tau dasarnya, mau dibolak balik gimana pun kamu pasti paham. 
- Kontinu membaca dan belajar. Ngga penting banyak, yang jelas sehari kamu istiqomah belajar dengan efektif cukup kok.
- Gunakan media pembantu belajar. Misal video dari youtube saat kamu ga paham apa yang kamu baca
- Tulis inti atau kesimpulan dari yang kamu baca. Jangan pindahin apa yang di buku ke catatan, terlalu banyak menghabiskan waktu
- Tahu unsur-unsur penting yang diketahui dari problem/kasus tersebut. Misal tentang tetanus. Nah kamu harus tau etiologinya apa, skor philipes pada pasien tetanus, gejalanya, mekanisme terjadinya gejala tersebut, dan tatalaksana awalnya gimana.
- Diskusi pre kelas diskusi. Penting agar diskusi di kelas jadi lebih lancar. Biasanya kita suka diskusi dari apa-apa yang kita baca untuk menyatukan kebenaran dan melengkapi apa yang belum lengkap dari apa yang kita pelajari.
- Kalau untuk referensi? Biasanya ada operan dari kakak kelas berupa ebook atau jurnal atau potocopyan, dllsb

Jika masih merasa kurang setelah diskusi usai?

Jangan khawatir :) Kamu masih punya waktu post diskusi untuk mencerna hasil diskusi dan masih punya waktu hari seninnya saat presentasi peta konsep. Terlebih di momen tersebut ada narasumber yang akan meluruskan pemahaman kita yang masih salah. Jadi berperanlah sebagai pendengar yang baik dan catat hal-hal penting. Lalu tanyakan apa yang menurutmu masih belum jelas.

Kak, di preklinik kerjaannya hanya diskusi saja kah?

Ngga dong. Kita masih ada kuliah dengan dokter-dokter yang terkait di bidangnya dan masih ada kelas keterampilan klinik dasar (skill)/ KKD. Kalau KKD ya kita belajar teknik-teknik yag akan kita gunakan saat menjadi dokter kelak. Misalnya belajar cara anamnesis, semua pemeriksaan fisik, cara memberikan imunisasi, menolong persalinan, memasang infus, dan sebagainya dengan bantuan alat peraga tentunya atau biasanya disebut manekin. Biasanya kampus punya ceklist urutan dalam melakukan tindakan tersebut. Jadi usahakan sebelum masuk KKD kita sudah baca ceklistnya yaa :)

Yups, sekian dulu sesi kali ini, semoga bermanfaat :)

Friday, January 27, 2017

Tips Belajar di Kedokteran #Seri1

Sebetulnya, tips belajar yang akan diceritakan di bawah hanya gambaran besar saja, dari sisi konsepnya. Untuk sisi teknis insyaAllah akan dibahas di postingan selanjutnya yaa. Ini bisa available buat kamu bisa juga ngga. Yang menjadi penting sebagai catatan untuk belajar adalah bahwa kita harus belajar untuk mengenali diri kita sendiri  terlebih dahulu sebelum mengenal cara belajar kita. So, coba aja dievaluasi apa yang kamu suka dan ngga kamu suka saat belajar.

Misalnya saya suka belajar :
1. Kalau ngga berisik
2. Sambil dengerin musik instrumen
3. Kalau ngga capek
4. Kalau besoknya libur
5. Kalau lagi dapet banyak pertanyaan yang harus dicari
6. Dikasih amanah buat ngajarin temen
7. Kalau temanya "______,_____, "
8. Di atas meja
9. Di luar kamar
10. Sambil di perjalanan
11. Kalau ada makanan

Saya ngga suka belajar:
1. Saat banyak pikiran dan masalah
2. Saat capek
3. Saat ada proyek seru yang harus diselesaikan
4. Belajar kelompok kalau belum baca dulu
5. Sambil nginep di rumah temen
6. Kamar kotor
7. Panas
Kok bisa tau ya? Yaah, dikira2 aja.. Kan udah sekolah sejak TK masa ngga tau siih? Hehe

Ngelist udah, terus ngapain?
Jalanin dong rencana belajar sesuai kondisi yang kamu suka dan kamu harus punya effort untuk mengkondisikannya. Misalnya kamu tau kalau kamu suka belajar kalau ngga berisik. Jangan maksa-maksain belajar di saat kondisi riuh, dijamin ngga masuk masuk. paling-paling kamu cuma bisa baca, habis itu mantul lagi.

Tapi kadang kondisi ngga selalu seperti yang kita harapkan :( Misal saat kondisi riuh di kelas, ngga mungkin dong kita selama waktu luang di kelas ngga belajar juga karena selalu rame. Apalagi kalau besok ujian. Waaaa :" 

Ya caranya kamu bikin inovasi dengan bikin keributan juga alias belajarnya jadi vokal. Misal belajar dengan cara dikencengin bacaannya, atau sambil diskusi dan geret temen sebangku kamu buat belajar bareng. Atau kalau ngga bisa juga kamu pergi keluar dan belajar di kantin atau mushola, hehe.

Kalau ngga bisa juga, mungkin kita perlu evaluasi niat belajar kita nih guys. Belajarnya udah pake do'a belom? Belajarnya udah tau buat apa?

Kalau tujuannya hanya jangka pendek, biasanya kita akan mudah lelah dan jatuh kalau ngga tercapai. Tapi kalau tujuannya panjang dan besar, insyaAllah energi yang kita punya juga jauh lebih besar. Kayak abang becak aja. Si Abang sebetulnya punya tenaga untuk nganterin yang deket sama yang jauh. Kalau pas nganterin penunpang jauh deket, si abang ngga perlu capek-capek betul untuk nyiapin tenaga. Tapi nanti kalau ada orderan lagi dia harus nyiapin berulang-ulang. Tapi kalau diminta anterin yang jauh si abang mesti nyiapin tenaga ekstra dong buat mengayuh sepeda demi mengais rezeki. hohoho~

Nah, kita juga sama nih, dikasih pilihan buat nyiapin energi untuk tujuan jangka pendek sama jangka panjang. Tinggal pilih aja. Tujuan jangka pendek itu ya semisal pengen dapet nilai tinggi, dapet pujian, lulus, dsb. Kalau jangka panjang ya berarti kita udah memproyeksikan tujuan belajar kita untuk masa depan. Misalnya kita mau belajar yang bener supaya pas gede bisa jadi menkes, nanti bisa bikin kebijakan di bidang kesehatan yang impactnya besar buat masyarakat, trus nanti sekalian jadi konsulen biar bisa ngajar dan dapet amal jariyah buat persiapan akhirat. Bisa menemukan penemuan baru, dllsb. Sembari belajar kedokteran juga mesti belajar komunikasi sama semua pihak, belajar empati ke pasien, belajar manajemen, dllsb. 

By the way buat ngejer tujuan jangka panjang kata pendahulu-pendahulu ngga mudah juga loh. Kita tahu harus mencapai itu tapi seringkali kita jatuh dan bahkan sampai depresi. (Jangan sampai lah ya....) Hufffh.. di sinilah kita harus sadar, kalau kita bukan siapa-siapa di dunia ini. Ada Allah sebaik-baik perencana dan eksekusi.

Terkadang kita merasa beban hidup sudah semakin meninggi, tuntutan yang harus kita kerjakan banyaaak banget. Riweh. Tapi kita suka sombrong kalau kita mampu melakukannya sendiri. Ngeplot tujuan sendiri dan kekeuh alurnya harus sesuai sama konsep hidup kita. Kita lupa kalau kita itu berjuangnya ngga sendiri, ada Allah yang selalu menerima kapan pun kita ingin berkeluh kesah, ada Allah yang tahu jalan yang terbaik buat kita. Allah ngga menuntut kita seribet kita menuntut diri kita sendiri. Tugas besar kita adalah beribadah dan berjuang sebagai khalifah dengan apa pun yang kita miliki. So, selama belajar kita harus mempererat hubungan kita dengan Allah yaa. Semoga Allah ridho, semoga Allah mudahkan segala jalan kita untuk kebaikan. Semoga bisa jadi energi terbesar untuk kita bangkit lagi dan lagi :)

Banyak-banyakin ibadah sunnahnya, sholat tahajud, duha, rawatib, infaq, baca qur'an dan terjemah dibarengi konsisten untuk mempelajari Islam. Udah tau kan kalau islam bukan ritual aja? Segala aspek-aspek yang baik itu sumbernya dalam islam. Kalau selama pendidikan kamu bakal terngiang-ngiang dengan kata-kata ATTITUDE, maka sesungguhnya attitude yang baik itu juga bagian dari kita berislam. Kalau kamu disuruh disiplin, datang tepat waktu, itu juga bagian dari Islam. Kalau kamu belajar, didorong untuk berprestasi dan memberikan manfaat untuk dunia itu lagi-lagi bagian dari Islam. Dengan cara itulah sebetulnya Islam bisa menjadi rahmat bagi semesta alam. Nah, gitu deh, kayaknya kita memang harus buka-buka lagi nih Al-Qur'annya sambil dibaca terjemah dan tafsirnya, habis itu pelan-pelan kita amalkan. Jadi kita bisa hidup sesuai guideline yang evidence based, ga bikin guideline hidup sendiri semau kita. Seperti.. saat kita ngobatin pasien-pasien kita kan? Kita pasti akan cari guideline terbaik yang tingkat evidence based nya paling tinggi. Masa buat diri sendiri kita ngga mau?? 

to be continue.......

Saturday, December 31, 2016

FK UIN ???

Image result for fkik uin jakarta

Tulisan ini didedikasikan untuk adik-adik SMA kelas 3 yang merencanakan untuk masuk ke fakultas kedokteran. Btw, UIN ada fakultas kedokteran yak? Hehe.. 

Jadi begini, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tidak hanya terdiri dari fakultas dengan jurusan agama saja, tapi juga meliputi jurusan umum. Salah satunya adalah Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan. Jadi sekarang, masih dalam bentuk prodi ya, bukan fakultas. Di dalam FKIK, ada beberapa jurusan, yaitu ilmu kesehatan masyarakat, keperawatan farmasi dan program studi kedokteran dan profesi dokter.

Baru ya kak kedokteran UIN? Ngga kok, udah lama, jadi sudah ada mulai tahun 2005. berarti sampai saat ini sudah ada 5 (mau 6) angkatan yang sudah lulus dan jadi alumni. 

Dulu, waktu awal masuk UIN, anggapannya yasudah saya belajar di tempat biasa aja. Tapi jangan salah, ternyata staff pengajar di UIN adalah alumnus UI juga kok :) Dan yang menyenangkannya adalah karena kita bisa koas di RSUP Fatmawati. Sebuah rumah sakit tipe A, yang lumayan lengkap lah fasilitasnya. Kasusnya juga sangat variatif. dari yang sederhana sampai yang complicated. 

Nah, untuk jalur masuknya juga beragam. Mulai dari beasiswa depag, sbmptn undangan, sbmptn tulis, beasiswa daerah dan ujian mandiri. Kalau untuk beasiswa depag biasanya ada tes untuk lulusan pesantren dari departemen agama dan seleksinya biasanya dilakukan sebelum tes sbmptn. Selebihnya udah paham lah ya? Hehe..

Oh iya, yang perlu diperhatkan juga dan agak sedih sih di UIN biaya buat yang masuk lewat sbmptn sama seperti mandiri. Agak sedikit berbeda dengan universitas negeri lain yang memberikan taraf bayaran bagi mahasiswa yang masuk dengan jalur negeri lebih rendah :''

Nah, terus banyak yang nanya juga untuk tes masuk kedokteran UIN, kira2 perlu tes agama ngga ya? Tergantung. Masuknya lewat jalur apa. Kalau masuknya lewat beasiswa DEPAG atau ujian mandiri yang diselenggarakan UIN pasti ada tes soal-soal agamanya. 

Duh, apa lagi ya yang mau dijelasin? Nanti deh ya, dilanjutin ke postingan selanjutnya.. 

Monday, July 29, 2013

Mengapa Muslim Perlu Memilih Profesi Dokter? #Part 1



Hmm, buat MABA (mahasiswa baru) yang sudah difiksasi sebagai mahasiswa kedokteran (selamat yaaa :D impian dan usaha keras kalian akhirnya terwujudkan :D) dan berstatus muslim, hal yang perlu saya pertanyakan pertama kali adalah: 'Mengapa kalian ingin menjadi dokter?'. Pertanyaan yang sama diajukan ke saya ketika dulu menjadi maba kedokteran. Mungkin artikel ini bisa menguatkan kembali langkah saya dan membantu kalian membuka pikiran bahwa kita tidak seharusnya hanya menjadi simple doctor yang sekadar mengobati dengan obat. Ok..??

Dahulu, Islam sempat mengenyam masa keemasan di bidang kedokteran. Sudah kenal kan nama-nama dokter muslim zaman dulu? Yups, ada Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Ar-Razi, dll nya. (Coba ditilik ya sejarah mereka ^^). Nah, setelah itu, ilmu kedokteran Muslim mengalami kemunduran karena ternyata banyak ummat Islam yang lebih memilih untuk mempelajari ilmu syari'ah dan meninggalkan ilmu kedokteran. Akhirnya jadilah buku-buku kedokteran Muslim diterjemahkan oleh dunia barat dan mereka mulai mempelajarinya dari sana. Ujung-ujungnya mereka mengecap bahwa Ilmu Kedokteran yang berasal dari mereka, adalah ilmu kedokteran modern yang sesungguhnya. Kalian tahu bukan, padahal Ibnu Sina lah yang memiliki gelar sebagai 'Bapak Ilmu Kedokteran Modern'. Miris bukan?

Bahkan orang-orang barat seolah ingin menyamarkan hal tersebut dengan memberi nama-nama ilmuwan muslim tersebut dengan bahasa mereka. Contohnya saja Ibnu Sina, mereka namai dengan Avicenna, Ar-Razi dengan nama Razees, dll.

Ada ungkapan Imam Syafi'i yang menggambarkan fenomena ini: "Aku tidak mendapati suatu ilmu yang lebih mulia setelah ilmu tentang halal dan haram dari Ilmu Kedokteran. Hanya saja, orang Nasrani lebih menguasai ilmu tersebut dibanding ummat islam."

Imam Harmalah menanggapi kata-kata Imam Syafi'i tersebut: "Sesungguhnya Imam Syafi'i meratapi kondisi umat yang kurang memperhatikan ilmu kedokteran. Ia berkata, 'Sesungguhnya umat Islam telah menyia-nyiakan sepertiga ilmu dan memberikannya kepada orang2 Yahudi.' Imam Syafi'i mengabadikan realitas yang terjadi pada zamannya. Pertanyaannya kemudian, apakah kita yang hidup di abad ilmu pengetahuan dan teknologi ini akan menyia-nyiakan kesempatan (ilmu) tersebut?"

Kalian tahu bukan apa hukumnya menuntut ilmu kedokteran? Ya, fardhu kifayah. Diwajibkan. Tapi ketika sebagian yang lain sudah melakukannya maka gugur kewajiban bagi yang lainnya. Tapi fardhu kifayah ini terkait juga dengan konteks zaman (waktu) dan tempat. Jika di saat itu tidak ada seorang pun muslim yang berprofesi sebagai dokter, maka hukumnya naik tingkat menjadi wajib untuk menuntut ilmu kedokteran. Juga terkait tempat. Misalnya di daerah A tidak terdapat dokter, maka muslim yang ada di sana harus menimba ilmu kedokteran dan hukumnya akan kembali kifayah jika sudah ada yang melakukannya.

Tapi tidak sesimpel itu untuk menjadi seorang dokter muslim. Tidak hanya kewajiban kifayah saja yang dilakukannya, seorang dokter muslim juga harus berambisi setidaknya pada dua hal: memperbaiki kondisi kesehatan ummat Muslim se-dunia dan menemukan penemuan-penemuan terbaru di bidang kedokteran. Siaap..??

Terbayang kan, kalau kondisi kesehatan ummat Islam se-dunia sudah baik, maka perbaikan di ranah pendidikan, perekonomian, agama, pembangunan dan lain-lainnya bisa teratasi. Tidak ada lagi nantinya seorang Muslim yang mengeluh tidak bisa belajar mengaji dan menuntut ilmu karena fisiknya lemah. Tidak ada lagi nantinya Muslim-Muslim yang meramaikan rumah sakit karena menderita diabetes, stroke, dll, tapi sebaliknya: meramaikan masjid, gedung-gedung pemerintahan, sekolah, universitas, juga meramaikan pasar-pasar dan semua tempat dengan konsep-konsep Islam.

Kedua mengapa harus menemukan sesuatu yang baru? Karena kita tidak mungkin selamanya mengekor pada ilmu kedokteran barat. Untuk mengubah sesuatu yang lama, tentu saja harus menemukan konsep-konsep yang baru di bidang kedokteran.

Pernah dengar mengenai efek placebo? Suatu efek yang bisa menyembuhkan pasien tanpa obat. Bukan wilayah perdukunan kok. Tapi efek pasebo itu terkait kondisi dan keyakinan pasien. Misal, pasien A berkata, saya datang ke dr.A saat sakit, tapi datang saja sudah membuat saya sembuh. Atau kejadian pada pasien yang diberi pil placebo saat uji klinik. 

Lho? kok ujung-ujungnya jadi bahas placebo sih? Ihh... sabar ya, maksudnya saya mau menjelaskan bahwa masalah penyakit pasien tidak terbatas pada dia sakit di bagian mana, seberat apa penyakitnya, terus dikasih obat apa, tapi masalah pasien itu kompleks. Kadang ada lho pasien yang datang cuma untuk curhat sama dokter? (Ini seriuss gan..) Seorang dokter muslim yang baik, tidak memandang pasien sebagai objek yang sakit, tapi memandang keseluruhan individunya, lingkungan sosialnya, dll nya yang bisa memengaruhi kondisi kesehatannya. So, banyak hal yang harus dipelajari dan dipersiapkan sebagai calon dokter muslim yang handal. 

And then, for the last... Setelah kita tahu apa orientasi kita untuk menjadi dokter Muslim, kita patutnya tetap setia pada perkembangan situasi di negeri kita dan di negeri muslim lainnya. Inget kan haditsnya Rasul? "Seorang Muslim itu bagaikan satu tubuh. Jika satu bagiannya sakit maka yang lain turut merasakannya." Jangan pernah bersikap antipati terhadap problem yang terjadi di sekitar kita, karena suatu saat kita akan kembali untuk mengatasi situasi itu. Sekalipun, textbook dan jurnal-jurnal yang kalian baca, slide-slide dosen yang perlu kalian review, logbook yang harus selalu dikumpulkan tiap minggu, ujian berkala tiap modul dan lain-lainnya memenatkan otakmu, menyita penuh perhatianmu, menguras tenagamu, bahkan terkadang, membakar emosimu, ingatlah sejawat bahwa kita harus tetap peduli terhadap permasalahan yang melanda Muslim se-dunia. 

Yakinkan dirimu, bahwa Allah selalu bersamamu dan Allah akan memudahkan usahamu. Banyak-banyak berdo'a dan jauhi mengeluh. Tetap semangat sejawat...!!!

Wednesday, October 3, 2012

Untukmu Calon Dokter Muslim

Dalam suatu pembelajaran mengenai 'Dokter Muslim', dosen saya mengisahkan pengalamannya saat menangani salah satu pasiennya. Pasien tersebut berkata:
"Bu dokter, bukannya dokter itu orang yang pinter-pinter ya..?"
"Ya.", jawab dosen saya. "IQ nya kira-kira dari kelas menengah ke atas."
"Kalau begitu, kenapa dokter itu masih harus percaya kepada Tuhan?"
Dengan tenang dosen saya berkata:
"Justru karena profesi kedokteran itu saya malah semakin percaya kepada Tuhan dan merasakan bahwa diri saya semakin kecil di hadapan-Nya."

Itu pengantar awal artikel ini mengenai dokter muslim. InsyaAllah saya akan menjabarkan beberapa hal yang berkaitan dengan kisah singkat di atas.

Pertama adalah analisis mengenai niat. Setiap muslim sudah sering dan mungkin sudah sangat hafal hadits mengenai niat. Namun saya wajib meyakinkan diri saya sendiri dan juga rekan-rekan sejawat untuk terus berusaha memurnikan niat karena Allah. Kenapa? Karena profesi kedokteran itu merupakan profesi yang paling rentan untuk melakukan penyalahgunaan. Banyak sekali godaan-godaan yang akan kita temui nanti, terutama godaan yang terkait dengan materi. Sebenarnya, tidak ada yang  perlu dicemaskan. Dengan bekal stetoskop saja, kata dr.Arlis, kita bisa menyalakan api kompor setiap hari di rumah :) 

Selain itu, terkait dengan perkataan atheis dalam dialog di atas, sebagai seorang dokter muslim, kita wajib menjauhkan diri dari sikap sombong. Dokter bukanlah manusia yang bekerja untuk menyembuhkan, tapi memberikan pengobatan. Itu kata kuncinya. Yang berhak menyembuhkan hanyalah Allah. Yakinlah! Meskipun kita telah melakukan diagnosis secara cermat, memberikan obat-obatan yang tepat, dllsb, tapi ada faktor penentu yang menyebabkan kesembuhannya: Allah. Maka, bukanlah hal yang lumrah ketika banyak juga dijumpai kasus seorang penderita penyakit yang telah mencoba berbagai jenis pengobatan baik medis maupun alternatif namun tidak sembuh-sembuh. Oleh karenanya, sebagai calon dokmus sejati, kita mesti benar-benar menyerahkan hasil usaha kita setelah melakukan serangkaian pengobatan (pemulihan).

Kedua adalah mengenai proyek jangka besar kita sebagai dokter muslim. Sebelumnya saya ingin mengucapkan syukur yang tak berhingga untuk Allah yang memberikan fasilitas kepada saya untuk mempelajari materi mengenai banyak hal tentang kedokteran muslim. Alhamdulillah.

Berdasarkan beberapa pemicu yang saya pelajari saat diskusi, saya banyak diantarkan kepada banyaknya permasalahan yang wajib diselesaikan oleh calon dokter muslim. Sejauh ini, beberapa kasus tersebut adalah:

1. Permasalahan mengenai syari'ah dan fiqh. Contoh kasusnya: seorang dokter harus melakukan operasi selama dua belas jam, dari jam 08.00 pagi -20.00 malam. Maka, bagaimana dokter tersebut harus melakukan shalat? 
Dari contoh kasus ini saya sudah mencoba mencari literatur yang ditulis dalam Bahasa Indonesia dan menanyakan ke beberapa orang yang dipercaya, namun saya sulit menemukan jawaban yang pasti. Sehingga saya berpikir, kita perlu melakukan pembahasan secara mendalam mengenai fiqh dan syariah tersebut dan menuliskannya dalam bentuk buku sebagai referensi untuk calon-calon dokter muslim selanjutnya.

2. Sebuah fakta mengejutkan dari artikel yang saya baca, ternyata lebih dari 90% dokter tidak mengetahui status kehalalan obat yang diberikan kepada pasiennya (http://www.halalmui.org/index.php?option=com_content&view=article&id=367%3Amenyoal-kehalalan-obat&catid=93%3Ahalal-article&Itemid=428&lang=in). 

Selain itu, hingga saat ini, bidang kajian obat IDI memang belum membahas permasalahan halal dan haram secara khusus. Mereka hanya memfokuskan permasalahan sebatas keamanan, efektivitas, ketersediaan dan keterjangkauan harganya saja. Padahal banyak sekali kandungan-kandungan obat yang ternyata mengandung zat-zat yang diharamkan dan bahkan berbahaya bagi kesehatan. 

Sebut saja lovenox, jenis obat antikoagulan yang ternyata terbuat dari babi. Selain itu, sebagian cangkang kapsul, insulin dan vaksin terbuat dari unsur yang serupa. Begitu juga dengan penggunaan alkohol yang sering digunakan dalam proses ekstraksi obat-obatan dan juga digunakan sebagai kandungan obat batuk dengan kadar di atas 1 %.

Alasan yang sering dijadikan pembenaran adalah kondisi darurat. Namun sangat disayangkan, apakah kondisi yang akan ada selanjutnya selalu berupa kondisi yang darurat?

Lalu kemana hadits yang bunyinya: "Untuk setiap penyakit itu ada obatnya. Apabila obat tersebut sesuai dengan penyakitnya, penyakit tersebut akan sembuh dengan izin Allah." (HR.Muslim)

"Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit melainkan ada obatnya." (HR.Bukhari)

"Sesungguhnya Allah tidak menjadikan kesembuhan kamu dalam hal yang diharamkannya." (HR.Bukhari) 


Apa yang harus kita lakukan?
a) Mendorong BPOM/LPPOM untuk giat mempublikasikan jurnal halal haramnya suatu obat. Atau kalangan dokter muslim perlu membentuk tim khusus yang menangani masalah ini.

b) Perlu dilakukan penelitian yang giat untuk menemukan obat-obatan pengganti dari sumber-sumber yang halal.

c) Penelitian untuk membuktikan kebenaran terhadap jenis2 obat-obatan yang telah disebutkan di dalam Al-Qur'an dan hadits. Memang sudah seharusnya seorang mukmin mempercayai apa yang dijelaskan oleh Allah dan apa yang melalui Rasulnya. Namun, dengan adanya fakta-fakta yang teruji dan spesifikasi yang jelas mengenai kadar obat yang digunakan dan pasien yang sesuai untuk menerimanya diharapkan mengurangi penggunaan terhadap obat-obatan kimia sintesis.


Copyright © 2014 Mahdiah Maimunah