Showing posts with label Catatan Harian. Show all posts
Showing posts with label Catatan Harian. Show all posts

Friday, July 28, 2017

Stase Rehabilitasi Medik

Image result for medical rehabilitation

Apa yang terbayang dalam benak kita ketika mendengar kata rehabilitasi medis? Fisioterapi? Tahap akhir? Yah, sebagian dokter pun mungkin sebagian masih berpikiran demikian. Namun itu adalah persepsi yang salah. Kenapa? Karena rehabilitasi medis itu cakupannya ternyata sangat luas dan sangat komprehensif.

Barangkali kita berpikir jika ada seorang yang sakit namun kehidupannya sudah tidak bisa diharapkan produktif, kita baru akan terpikir untuk membawa pasien tersebut ke rehabilitasi medik. Sekarang jangan yaah :)

Rehab itu juga termasuk preventif loh. Misal bagaimana caranya mencegah agar pasien2 dengan sakit metabolik kronik seperti diabet dan darah tinggi dihindarkan agar tidak sampai ke taraf kehidupan yang impairement. Misalnya dengan olahraga. Jika di selain dokter rehab seorang dokter hanya berbicara teori tentang berapa banak olahraga yang semestinya di lakukan seminggu dan tujuannya untuk apa, maka dokter di rehab medik akan membantu pasien memahami dengan bagaimana olahraga yang tepat untuk dilakukan pasien. 

Contoh lainnya dan penting banget. Pasien seringkali datang ke rehab medik dengan keluhan kaku dan sendinya ga bisa digerakkan. Waah.. kasian kan. Nah, kalau sudah seperti itu biasanya pasien sudah terjadi kontraktur. Semacam kekakuan di anggota tubuhya. Kenapa bisa demikian? Karena anggota tubuhnya sudah jarang digunakan. Terutama biasanya mengenai pasien2 yang menjalani operasi tulang. Kok bisa? Iya, soalnya kalau dioperasi tulang, butuh waktu imobilisasi lama. Nah, jika pasien2 berada di rumah sakit yang terdapat spesialis rehab mediknya, pasien akan dikonsulkan di awal oleh dokter spesialis ortopedinya ke spesialis rehab medik. Jadi nanti pasien akan mendapatkan penjelasan dan pengarahan terkait rencana pre sampai post operasi. Salah satu manfaatnya adalah dapat mencegah kejadian kontraktur alias kaku tadi.

Rehab membuka kacamata saya bagaimana mengelola pasien secara menyeluruh. Kita diajarkan untuk bagaimana agar pasien dengan kekurangan apa pun bisa mencapai fungsi yang optimal. Tentunya sesuai dengan kondisi masing2 pasien dan kemungkinan pencapaiannya.

Satu minggu di stase rehab jadi ada keinginan menjadi dokter rehab. Sepertinya bahagia bisa menolong pasien yang awalnya fungsi tubuhnya ga terlalu berfungsi kemudian bisa lebih berfungsi. Terlebih ada sih yang terlihat hasilnya, hehe. 

Selama di rehab merasa sangat amat bersyukur karena Allah sudah memberi tubuh yang sempurna buat saya, sakitnya ga terlalu berat kayak mereka. Jadi betul-betul ingin berusaha agar dengan fungsi tubuh yang udah seoptimal ini bisa banyak-banyak memberi manfaat buat orang lain.

Yah, salah satunya ini yang buat saya pengen nulis lagi setelah hampir putus asa ga mau nulis.Mungkin tulisannya isinya seperti ini aja. Tapi mungkin pembaca bisa jadi tau kalau rehab isinya ga fisioterapi aja. Mungkin anak-anak fk yang lain jadi tertarik juga dan penasaran sama rehab medik. Wkwk. Terlebih konsulennya pada baik pisan :)

Referensi gambar: 
http://www.ecmc.edu/health-services-and-doctors/medical-rehabilitation/physical-therapy/

Monday, June 26, 2017

Makna Sebuah Perjalanan


Saya sangat menyayangi abi. Beliau adalah sahabat dan teman curhat, teman diskusi yang menyenangkan, serta inspirasi dalam memandang berbagai hal di dalam kehidupan. Abi adalah supporter utama bagi saya dan adik-adik. Abi adalah orang pertama yang mendukung segala apa pun cita cita kami. Abi tidak pernah menghakimi kesalahan kami sebagai suatu hal yang membuat kami bisa saja sewaktu-waktu bersikap menarik diri. Abi selalu berjiwa muda :)

Episode menyenangkan bersama Abi adalah saat di perjalanan. Dalam perjalanan kita semua harus berbahagia. Perjalanan menurut saya adalah cara pendekatan yang paling sakti untuk menghimpun kekakuan yang mungkin tercipta karena jarak, perpisahan dan kebiasaan yang sudah mulai berbeda. 

Di dalam perjalanan kita bisa sebebasnya bernostalgia kenangan masa lalu, bisa bercerita kondisi saat ini, bisa mengutarakan pendapat dan kemudian saling menimpali untuk melengkapi. Tak lupa, perjalanan adalah waktu di mana kita bisa bebas memproyeksikan diri di masa depan dan memperoleh dukungan moril untuk merealisasikanya.

Bagi Abi, tidak ada mimpi yang salah. Bagi Abi tidak ada anak-anaknya yang tidak berkarya. Abi selalu percaya bahwa anak-anaknya bisa bebas berkembang dengan kapasitas yang berbeda. Abi selalu percaya bahwa suatu saat masing-masing dari kita akan memberikan kontribusi buat orang2 di sekitar kita. Bagi Abi, mungkin hanya masalah waktu jika memang saat ini kita belum bisa dewasa dan belum bisa taat sepenuhnya dalam beragama serta berdakwah seperti Abi. 

Abi adalah inspirasi dalam diam dan saat bergerak. Dalam perjalanan ini pun, Abi mengajarkan tentang makna silaturrahmi dan tips trik dalam bersosialisasi. Abi tidak pernah memposisikan diri sebagai orang yang paling tinggi. Semua orang seolah seperti keluarga bagi Abi. Abi juga kadang tak segan-segan saat berkunjung membawa oleh-oleh dari rumah untuk diberikan. Alhamdulillah, keakraban di masyarakat Bengkulu memang sebetulnya masih sangat erat ditambah gaya Abi dalam bersosialisasi jadi makin akrab. MasyaAllah.

Di akhir perjalanan, saya hanya bisa bersyukur kepada Nya atas anugrah terbesar karena telah memberikan Abi yang begitu luar biasa...

Bengkulu, 27 Juni 2017

Thursday, October 22, 2015

Catatan Materi Open House KOMDA FKIK


Menghadiri acara OH kemarin sore serasa dicharge lagi semangat kita dalam berdakwah. Judulnya adalah Bangkitkan Semangat Mahasiswa Kesehatan Dalam Berdakwah.

Saat itu saya telat meghadiri kegiatan. Saya mendangarkan materi mulai dari bahasan korelasi antara ilmu, amal dan dakwah. Style penulisannya seolah-olah pemateri sedang memberikan materi buat kita. Jadi sebagian tulisan saya seolah-olah berupa kalimat langsung. Maaf ya kalau acak-acakan. Semoga bermanfaat.

Ilmu adalah sesuatu yang menjaga manusia dari amalnya. Setan takut kepada orang yang berilmu meski amalnya sedikit. Sementara setan leih mudah menguasai orang yang beramal banyak tanpa ilmu. Di samping itu, ilmu juga merupakan sesuatu yang seharusnya membuat kita tidak bersombong diri karena ilmu itu asalnya dari Allah. Coba dibuka surat Al-‘Alaq ayat 5: ‘allamal insaana maa lam ya’lam. Allah itu mengajarkan manusia tetang sesuatu yang tidak diketahui olehnya sebelumnya. Jadi sebelumnya kita tidak tahu apa-apa dan ilmu yang sudah kita dapat pun, juga bisa dengan mudah Allah ambil. Tersebutlah kisah tentang seorang professor beliau yang masa untuk mendapatkan gelar professor tersebut lamanya bisa 20-30 tahun. Suatu hari, dia terkena stroke. Saat ditanya siapa namanya, professor tersebut benar-benar sudah lupa namanya sendiri. Apalagi ilmu lainnya. Profesor tersebut hanya bisa menangis.

Kemudian bagaimana korelasi antara ilmu dan dakwah? Tahukah, bahwa adanya kita di jurusan kita yang sekarang bukan terjadi karena kebetulan. Adanya kita tentu karena ada sesuatu yang Allah inginkan dari kita saat ini dan saat lulus nanti. Lalu dengan apa kita berdakwah? Banyak jawabannya! Dakwah itu ada dua: bil hikmah dan bil hal (dengan hikmah dan dengan sesuatu). Dakwah bil hikmah bisa lewat lisan maupun tulisan. Kita semua adalah da’i. Jadi siapa pun bisa berdakwah. Tidak hanya sekedar anak pesantren saja. Bahkan sekarang banyak sekali da’i yang mulanya berasal dari jurusan-jurusan umum bukan jurusan agama tapi banyak diterima. Mengapa? Padahal mereka mungkin dalilnya tak sebanyak lulusan agama atau pesantren. Jawabannya adalah karena mereka banyak menceritakan apa yang mereka alami dan aplikasikan sehari-hari, ini membuat yang lain mudah menerima dakwahnya.

Orang-orang barat itu ingin menghancurkan islam dengan propaganda-propaganda yang semakin berkembang, saat ini salah satunya adalah lewat media teknologi. Nah, kalau kita berdakwah dengan ceramah saja, mungkin hanya sebagian kecil orang yang tahu tapi kalau kita bisa menyebarkan kebaikan lewat gadget kita luar biasa bukan?

Nah, sekarang dakwah bil hal. Bagaimana contohnya? Dengan ilmu yang kita tekuni saat ini. Non sense kalau ada yang bilang aktivis dakwah tapi ngga ikut kuliah. Non sense kalau kita berdakwah tapi IP kita dibawah 3. Kita kuliah ini adalah salah satu amanah dari orang tua kita untuk berdakwah. Akan dilanjutkan nanti.

Pasien itu datang kepada kalian dengan harapan dan percaya kepada kalian. Coba kalian bayangkan di saat ada seorang ibu dan suaminya datang, kalian minta si ibu untuk buka celana. Suaminya pasti akan bilang: “Bu, buka bu celananya.” Pasien akan mengikuti. Karena pasien percaya sama kalian. Kalau calon dokter kuliahnya ngga bener, berarti sama saja kalian memberikan tembakan kepada pasien kalian.

Begitu juga dengan dakwah di KOMDA. Kalau pengurus-pengurus KOMDA IPK nya tinggi-tinggi, tanpa diajak pun orang-orang akan masuk KOMDA. Ngejleb ya?

Di sesi materi, dr.Fachri juga banyak bercerita tentang perjalanan dakwahnya.
Beliau mengungkapkan : “Dakwah itu harus serius.”. “Dakwah itu ngga main-main”
Bagaimana contoh kita serius dalam berdakwah? Baca buku! Baca buku! Baca buku! Di era beliau membeli 1 buku 1 bulan sudah jadi kebiasaan. Tentang kapan waktu untuk membacanya ya di saat ada kesempatan. Jadi kemana-mana bawa buku, meski belum tentu dibaca. Tapi lebih baik daripada ada kesempatan kita ngga jadi baca karena ngga bawa buku. Salah satu buku yang beliau rekomendasikan adalah Fiqhul Ikhtilaf karya Sayyid Quthb.

 Dr.Fachri juga bercerita secara blak-blakan tentang pengalamannya semasa dulu liqo dan membina liqoan. “Dahulu saat saya liqo, saya sering dimarahin sama murobbi saya. Suatu kali saya pernah terlambat karena lokasinya memang jauh. Saya dimarahin. Tapi setelah selesai liqo, murobbi saya merangkul saya, menanyakan bagaimana kondisi saya, perkuliahan saya dan keluarga saya.

Saat saya membina, saya pernah punya binaan kemudian bubar, punya binaan lagi kemudian bubar, punya lagi terus bubar lagi. Bahkan saya pernah malu diketawain sama mad’u saya karena saa ngisi iqo sambil liat buku. Apa kita berhenti setelah itu? Tidak. Bahkan kita harus belajar terus. Rasulullah berdakwah sampai dilempari batu oleh penduduk Thaif tapi beliau masih melanjutkan dakwahnya. Saya tidak ada apa-apanya. Yang kita cari bukanlah banyaknya binaan. Yang kita cari adalah ridho Allah. Saya ingin menunjukkan kepada Allah ya Allah, saksikanlah bahwa saya taat kepada Engkau, isyahadu bianna muslimun.


Terakhir saya ingin mengutip perkataan dr.Fachri, beliau mengungkapkan hal ini “ Pahal berdakwah itu jauh lebih besar dari menjadi dokter spesialis apa pun.” Woow, keren masbro! Tapi bukan berarti kita ngga jadi berniat jadi dokter spesialis ya J So, masih mau main-main dalam berdakwah? Jangan yah ;) Ayo kita maksimalkan dakwah kita baik dengan hikmah maupun dengan sesuatu yang kita miliki. Serius berdakwah gaeess…

Tuesday, July 28, 2015

Andai Aku Bunga by.Ust.Irfan SOfyan


Andai aku sekuntum bunga
Ku kan mekar sepanjang masa
Yang mengantar matahari
Tuk rambat sinari bumi

Andai hujan siram aku
Ku kan tumbuh sepanjang waktu
Kutebarkan wangi lisan
Amanah suci ilahi

Karena aku bunga
Di tengah galau zaman
Di tengah noda masa
Porak poranda dunia

Ku ingin berbunga
Di taman layu bunga
Gugur nista terhina
Fatamorgana

Madu yang kusimpan rapi
Kujaga tuk mengobati
Kutuang tuk menyejukkan
Dahaga insane yang papa

Ko* (ga terdengar jelas)
Warnai muka bumi
Duri tumbuh bukan belati
Tuk jaga insane yg suci

Lagu ini merupakan karya ustadz irfan sofyan, guru kami di SMPIT Iqro’ Bengkulu. Dulu sempat menyanyikan lagu ini bersama teman satu grup saat ujian kesenian. Setelah lulus, tiba-tiba keinget sama potongan liriknya. Tapi ga hafal full. Coba mencari dan Alhamdulillah ketemu di youtube. Rasanya pengen nangis. Apalagi mencermati bait demi bait liriknya.

Pesan yang disampaikan oleh lagu ini adalah agar kita bisa menjadi manusia yang menyinari sekitarnya. Meskipun di tengah hiruk pikuk dunia yang semakin kacau. Menjadilah bunga, meskipun di taman yang layu. Yang selalu mekar sepanjang masa. Yang istiqomah meskipun zaman selalu berubah.

Ah ya, ternyata itu pesan yang ingin disampaikan guru-guru kami tercinta. Saya ingat betul, setiap kali bertemu guru-guru saya di sekolah yang beliau tanyakan gimana ngajinya? Udah nambah ngga hafalannya? Gimana akademiknya? Memastikan apakah kita masih konsisten seperti saat di SMP dulu.


Masa-masa SMP mengingatkanku akan masa-masa dimana kita saling berlari mengejar keunggulan dalam bidang apa pun. Di sekolah ini kita diyakinkan dan didampingi betul-betul agar bisa menyinari dunia. Kesabaran guru yang luar biasa seringkali membuat terenyuh. Satu pinta untuk mereka agar Allah mengampuni dosa guru-guruku, memudahkan hidupnya dan memasukkannya ke dalam Surga.

Well, ini hari akhir liburan di Bengkulu. Harapan terbesar aku bisa merealisasikan mimpi-mimpiku. Semoga Allah menjaga obsesiku, mengistiqomahkan semangat dan amalku, menjaga niatanku. Tetap menjadi bunga yang menebar manfaat dan terus mekar hingga akhirnya. Full charge terus ya!

Thank's Fadiyah Assyifa udah ngupload lagu ini ke youtube, jadi bisa direply berulang kali. Link buat denger lagunya bisa di klik di sini https://youtu.be/sMCW2LGAnCM

sumber gambar:

Friday, July 17, 2015

Gathering Idul Fitri


Sejatinya, kebersamaan inilah yang akhirnya membuat saya selalu rindu pulang kampung. Kepulangan saya ke kampung kali ini pun punya kesan tersendiri. Dari yang mulanya ngga kepikiran pulang, tapi akhirnya kesampaian juga. Awalnya, tidak memaksakan kehendak untuk pulang, karena tahu bahwa beban Abi berat menanggung biaya kehidupan kami yang punya cita-cita tinggi untuk kuliah di jurusan pilihan kami masing-masing. Dalam waktu dekat ini saja dua orang adik harus bolak-balik untuk mengurus surat kelulusan dan persiapan tes masuk universitas pilihan mereka. Belum lagi pembiayaan yang harusnya disiapkan untuk mereka. Ditambah lagi biaya yang dialokasikan untuk saya pribadi. MasyaAllah, perjuangan abi dan ummi :')

Jadi, saat Abi menelpon saya dan menanyakan apakah perlu pulang atau tidak, saya jawab saja, "Bi, Mba Diah ngga pulang aja ya, lagipula nanti habis liburan ujian. Biar fokus di sini aja, nanti bisa main-main kok ke rumah keluarga di Jakarta atau nanti main ke rumah teman aja."

"Hmm.. gitu ya.. Oh ya udah kalau memang mau nya begitu."

Tiba-tiba telponnya terputus.

Beberapa hari kemudian Abi telpon lagi dan memastikan saya nanti akan melanglang buana kemana saat lebaran. "Bi, nanti Mba Diah ke rumah temen aja di Jateng. Udah diizinin juga sama mamahnya Bi."

"Oke,oke.. Kalau ngga nanti ke rumah saudara Abi atau Ummi aja ya, ke tempat bucik. Mau ngomong sama Ummi ngga? 

"Boleh."

"Mba, mau main kemana nanti?"

"Ke rumah sanak ummi aja nanti, yang kemarin kita ke sana bareng itu mi."

"Ngga ke tempat *ini, itu, blabla*lupa*"

"Ngga mi, tapi kayaknya ke rumah temen aja ya mi.."

"Oh ya udaah.."

***

Di telpon begitu, sebetulnya hati rindu ingin pulang. Apalagi semua temen pada nanyain kapan pulang. Pake acara manas-manasin. Ini lebaran terakhir sebelum kita coass, kalau udah coass bisa-bisa ngga pulang. 

Do'a aja mba.. gumamku dalam hati.

Akhirnya ditelpon Abi lagi dan ditanyain ulang. Kapan terakhir masuk? Udah mulai libur kapan? Berapa lama? Hmm.. mau pulang ngga? 

Saat itu jawabnya jadi beda. "Kalau diajakin pulang ayo, kalau ngga ngga masalah Bi."

"Pulang aja ya. Biar bisa kumpul sama datuk sama keluarga yang lain."

Yeaayyyyyyy, teriak dalam hati. Alhamdulillah

***

Sebetulnya saat kumpul ya kita ngumpul sambil bercengkrama saja. Beradu pikiran dan sembari bercanda. Satu lagi poto bareng dan jalan ke dusun bareng. Kita jadi deket. Kita jadi belajar satu sama lain. Kita bisa menghilangkan kepenatan. Kita bermain dan makan juga. Saya pribadi juga bahagia tak terkirakan, mengingat kejadian dahulu bahwa saya adalah bagian bocah-bocah cilik yang selalu nagih THR sekarang jadi malu kalau dikasih THR. Kebalikannya malah ditagih THR sama sepupu-sepupu yang masih kecil.

"Mbaaa... THR dong."
"Ngga punya, mba diah ngga bawa uang."
"Booooong."
"Diiih, seriusaan"
"Lima libuu aja."
"Ade, mba diah belum kerja. Nanti ya kalau udah kerja."
"Dua libu aja deh."
"Ngeyeel." 

Dalam hati berdo'a, ya Rabbi semoga tahun depan udah punya kerja biar kalau balik dan ditagih THR bisa ngasih mereka. Sisi yang lain bilang, sesama sepupu ngga ada istilah nagih yaa. Kalau saya statusnya tante kalian baru boleeeh. #deritacucupertama

***
Dibalik cerita penawaran Abi yang akhirnya ngajakin pulang, Ummi cerita kenapa bisa demikian. Jadi ceritanya waktu itu Abi lagi ke rumah datuk dan lagi gendongin ade sepupu yang paling kecil namanya Difa. Nah si Difa seneng banget katanya digendongin sama datuk. Sembari gendong, datuk sambil bilang gini, "Waii adoo kelak ni tuannyo kelak balik pas lebaran." -maksudnya saya yang biasa gendongin adek-adek-

Abi merasa tertegun dan akhirnya itu yang menyebabkan Abi menelpon ulang saya dan menanyakan mau pulang apa ngga. Hehehe

Tapi bukan salahnya Abi waktu saya ngga mau pulang. Atas kesadaran sendiri kok karena kebetulan mau ujian juga.. #ngeles

Hmm.. pokoknya lebaran ini speechles banget. Bisa kumpul dan belajar saling pengertian di dalam keluarga. I love you all Abi, Ummi, Abang, Ipah, Imah, Datuk dan nenek, bucik-om, dan semua sepupuku yang imut-imut dan ngga bisa disebutin satu-satu.

Semoga Allah mempertemukan kita dalam kebahagiaan yang sama di tahun depan yaah :')


Friday, May 15, 2015

Belajar Menyampaikan Nilai


Bang Faldo, seorang mahasiswa emas milik UI punya prinsip dan selama hidup itu kita belajar. Yaps! Belajar dari mana saja. Tak hanya belajar agar kita mendapatkan sesuatu, namun juga belajar bagaimana kita bisa memberikan sesuatu. Lagi-lagi kita harus menyadari bahwa sekalipun kebaikan bernilai benar dimata kebenaran, kita harus tetap apik mengemasnya agar bisa diterima.

Hari ini saya belajar, mengira-ngira dan memperhatikan bagaimana seorang dosen ortopedi kami mencari kesempatan menyampaikan pesan amalan istimewa di hari jumat dengan sederhana. Menurut pikiran sotoy saya, sepertinya di setiap kali jam megajarannya beliau sudah berpikir nilai apa yang akan disampaikan nanti.

Mungkin penggalan pengantarnya di waktu kuliah terdengar begitu simpel namun memiliki maksud tertentu.
"Hari ini, kita kuliahnya sampai jam 11 ya? Berarti kita kuliah hanya 15 menit saja. Sebentar lagi sudah mau jumatan juga. Lumayan buat baca al-kahfi di hari jumat."

Ayo, gali nilai positif dari orang-orang di sekitar kita, gali cara bagaimana ia mengungkapkannya dengan sederhana dan apik kepada orang-orang di sekitarnya ^_^







Saturday, April 18, 2015

Mencintai Mereka (Lagi)

 
 
Tak selamanya kondisi yang kita alami normal*. Mengapa saya beri tanda bintang? Karena kita sering mengganggap kondisi normal itu seperti kondisi yang dialami banyak orang. Padahal sebenarnya normal-normal saja. Pikiran kita yang sering membuatnya tidak normal.

Pernah membayangkan hidup dalam kondisi tidak ada keromantisan* dalam keluarga? Ngga ada yang bilang “bunda sayang kamu nak.”. “Ayah bangga dengan perjuanganmu.”

Sedih? Mungkin. Tapi apa harus selamanya seperti itu? Tidak juga.

Saya mungkin contoh seorang anak yang tidak dibesarkan dengan kata-kata berbau romantisme dan kebanggaan. 

Jadilah saya sebagai seseorang yang amat kaku untuk mengungkapkan apa yang saya rasakan kepada orang-orang di sekitar saya. Saya susah untuk mengapresiasi. Saya pun susah bilang sebaliknya kepada orang tua saya kalau “Saya mencintai Ummi”, atau “Saya sayang Abi”. Duh, terlalu rumit. Rasanya lidah begitu kelu untuk mengungkapkannya. Sejujurnya ingin merasakan apa yang dirasakan anak-anak sebaya saya. Terlalu banyak bahkan inginnya saya. Saya ingin juga agar saat pulang sekolah saya ditanyai: “tadi belajar apa saja?” Tapi itu nihil sampai saat saya dewasa. Atau mungkin saya lupa. Intinya saya menganggap bahwa keluarga saya terlalu datar, flat.

Sampai saat saya kuliah pun saya seringkali iri ketika teman-teman saya berlomba menceritakan seberapa sering orang tua mereka menanyai mereka. Lah saya? Boro-boro sering, paling2 hanya 1 bulan sekali. 

By the way, sepanjang perjalanan saya menanti-nanti kapan saya diperlakukan romantic oleh keduanya, saya belajar untuk mengamati. Masa iya sih ummi dan abi ngga saying. Mungkin bentuk romantic mereka yang beda kepada kita. That’s! Sepertinya itu!

Mungkin ada yang berupa kata, tapi versinya misalnya ummi akan bilang “Ummi senang kalau….”. Atau kalau bukan dalam bentuk kata, mungkin romantisme mereka kepada kami anak-anaknya telah hadir dalam bentuk yang lain. Saya pun menemukannya! Saya baru sadar bahwa bentuk romantisme saya dan ummi adalah ketika saya melakukan ritual salaman sebelum berangkat sekolah. Saya akan menarik tangan ummi kemudian ummi akan mencium pipi saya agak lama sembari membisikkan do’a yang lumayan lama kalau dilakukan sembari bersalaman. Apalagi kalau kira-kira hamper telat. Dan mungkin masih banyak lagi yang tidak saya sadari. 

Lalu, bagaimana dengan abi? Mungkin lebih abstrak lagi. Bahkan saya tidak bias memastikan di episode mana abi sesungguhnya sedang menunjukkan romantisme dan kasih sayangnya buat saya. Mungkin dalam kalimat “hati-hati ya” ketika akan berangkat sekolah bermakna “hati-hati ya sayang.” Atau yang mana lagi ya? Ntahlah. Sepertinya di setiap kalimat yang ingin Abi katakan, Abi ingin membubuhi kata-kata ‘sayang’ nya buat kita. Tapi, jiwa-jiwa perkasanya mungkin malu untuk mengatakannya. Atau mungkin, ia bermaksud agar anaknya, apatah lagi anak perempuannya ini tak bermanja-manja dan harus bersiap-siap belajar tegar.

Setelah saya melewati modul indra, akhirnya saya mulai paham mengapa Allah menciptakan sumber informasi itu masuk dengan beragam cara. Utamanya pendengaran dan penglihatan. Ayat-ayat tentang pendengaran dan penglihatan di dalam qur’an selalu berbarengan. Mengapa demikian? 

Contoh, dalam kejadian ini kita merasakan ketidakromantisan dalam keluarga kita karena kita merasa tidak pernah mendapat input verbal yang menyatakan kecintaan mereka kepada kita. Tapi kita masih dianugrahi penglihatan oleh Allah, masa iya romantisme hanya sebatas kata. Liriklah dengan kedua mata kita tentang bentuk romantisme mereka secara lebih nyata. Ummi dan Abi kita romantis kok, pagi-pagi buta saja mereka sudah terbangun untuk sholat malam, memasrahkan kehidupannya kepada Allah, memohon agar kebaikan dan rezeki Nya bias mengalir hari ini dan seterusnya untuk kita sekeluarga. Mereka romantis, karena selalu mendo’akan kita dipermudah urusannya oleh Allah.

Kurang romantis apalagi di saat kita bersiap-siap ke sekolah, ummi dan abi kita juga mengkondisikan makanan selalu tersedia sebagai bekal energi untuk kita. Mereka pun dalam kondisi yang siap dan rapi untuk bekerja mencari penghasilan agar kita bias menyambung asa. Kurang romantis apalagi di saat mereka selalu menuntun perbuatan kita agar tak salah, meski dengan marah, memukul atau menghakimi kita?

Jika sudah begitu, rasanya mereka sangat romantis. Kita saja yang tidak merasakan rasa cinta yang mengalir dalam setiap bentuk tindakan mereka.

Suatu kali, akhirnya saya tersadarkan. Kita tidak selamanya bisa berharap semua menjadi normal, senormal bayangan kita. Saya pun bertanya-tanya, apakah alasan Allah menjadikan kondisi yang seperti ini bagi saya dan keluarga saya? Apa mungkin karena saya yang menyadari ini terjadi Allah ingin agar saya menjadi jalan pembuka romantisme verbal untuk keluarga saya? Yah, maybe.. That’s challenging!

Mula-mulanya berat. Saya hanya berani bilang dalam versi bahasa inggris ‘I love you mi, I love you bi’ yang kadarnya lebih ringan daripada ‘aku sayang ummi’, ‘aku sayang abi’. Itu pun lewat sms atau tag2an via status fb ketika saya masih di kota rantau. Balik lagi ke rumah semua seperti biasa.

Tapi, ada yang berbeda minggu-minggu ini. Saya terinspirasi dari sebuah majalah tentang ayah. Secara tidak langsung saya juga memahami betapa cintanya kepada kami dalam bentuk-bentuk abstrak yang kadang tak terucap lewat kata. Dalam kalimat-kalimat pesan, disampaikan kepada kita “sampai kapan kita menunda mengungkapkan perasaan kita kepada ayah kita?” Saya tidak ingin menjadi seseorang yang menyesal untuk mengapresiasikan rasa cinta saya kepada Abi saya. 

Saya sms ‘aku sayang Abi karena Allah’. Begitu juga dengan ummi, saya bilang ‘aku sayang ummi karena Allah.” Alhasil, besoknya saya langsung ditelpon (*dasar mahasiswa kere). Selama seminggu ini saya juga bingung, kenapa hampir setiap hari saya jadi ditelpon. Berbicara kepada Abi juga tidak canggung lagi seperti dulu. 

Di sini saya merasa bahwa saya kembali mencintai mereka lagi. Jatuh cinta saya kepada mereka setelah akhirnya saya menyadari betapa romantisnya kedua orang tua saya kepada saya. Saya jatuh cinta lagi setalah bertahun-tahun perjalanan mempertanyakan ‘kenapa orang tua saya tidak romantis?’ mempertemukan saya dengan jawabannya: bahwa terkadang, kita harus menjadi pembuka. 

Oh ya, ada sedikit tambahan untuk menambah kedekatan dengan Abi. Terkadang, seorang ayah akan merasa sangat dihargai ketika kita menanyakan pendapat beliau atau saran-saran beliau. Meski terkadang kita sudah tau jawabannya. Masih dalam minggu yang sama, kebetulan saya akan diminta menjadi pembicara dalam sebuah agenda. Jujur, saya tipikal orang yang sangat grogi tampil di muka umum. Dengan dorongan yang kuat, akhirnya saya paksakan untuk menghubungi abi. Ingin meminta pendapat beliau bagaimana agar kita bias pede.

Mengakui bahwa saya bukan orang yang pede kepada abi sejujurnya berat, padahal ingin meminta saran. Kan lucu jika meminta saran bagaimana pede ke Abi sendiri tapi yang ngga pede orang lain. Hehe..

Jadilah saya membuka kelemahan saya di depan Abi, bahwa sebetulnya saya ngga pede ketika di depan umum. Sebetulnya saya pun bias meraba-raba apa yang akan diberikan oleh Abi, tapi ketika saya mendapatkan jawabannya langsung dari Abi sekaligus minta dido’akan agar presentasinya lancer, itu seperti sebuah hipnotis. Sepersekian ketidakpedean saya berguguran. Saya merasa bahwa di kelas presentasi saya ada Abi yang mendukung dan mensupport. Ini kasus unik yang saya rasakan sendiri.. Begitu dahsyat..

Usai hari presentasi pun Abi dan Ummi menelpon juga. ‘Bagaimana ngisi materinya?’
Duh, saya jadi nyengir-nyegir sendiri. Kagum dan bahagia memulai romantisme verbal di keluarga saya. Ini pengalamanku, bagaimana dengan pengalamanmu?

Ahad, 19 Maret 2015

Friday, August 1, 2014

Tentang Cinta, Pengorbanan dan Kesetiaan

roseintel.deviantart.com

Kembali bercerita tentang rumah dan inspirasi dahsyatnya. Dari rumahlah aku belajar banyak tentang cinta, pengorbanan dan kesetiaan. Pengejawantahan cinta yang sebenarnya memang tak layak didustai ungkapan cinta biasa tanpa bingkai pernikahan. Bahkan dua orang yang akan menikah bisa jadi belum sama2 cinta pada awalnya, namun ada azzam yang kuat di antara keduanya untuk membangun peradaban dari entitas yang amat sederhana itu. Ummi pernah bilang seperti ini: hati2lah sebelum kalian menikah! Jika dari awalnya saja kalian sudah memulainya dari sesuatu yang buruk, maka itu tidak bisa menjamin kesudahannya akan menjadi baik. Tapi jika diawali oleh suatu kemurnian, insyaAllah Allah akan memudahkan untuk kehidupan yang selanjutnya.

Jangan pernah takut saat kamu merasa tidak ada yang mencintaimu saat ini dan jangan sampai sombong bila ada seseorang yang menyukai kita. Itu semua ujian yang Allah hamparkan di hadapan kita untuk menguji ketaatan kita di hadapanNya. Jika merasa tidak ada yang menyukaimu untuk saat ini, bisa jadi diam2 ada seseorang yang tengah menyimpan rapi cintanya untuk diungkapkan secara sah suatu hari nanti. Bukankah kita sama2 seringkali mendengar bahwa tidak begitu penting untuk memikirkan siapa calon yang ditakdirkan Allah untukmu, tapi yang jauh lebih penting adalah bekal apa yang sejauh ini sudah kita persiapkan untuk membangun rumah cinta peradaban dan rumah surga itu?

Nah, begitu juga sebaliknya. Di saat kamu menyadari ada yang menyukaimu untuk saat ini, itu pun ujian dan bukan kesenangan sama sekali. Allah mengujimu apakah engkau lebih memilih dia atau Allah. Kelanjutannya pun seorang muslimah tidak boleh merasa suci karena ia mampu menjaga diri. Allah lebih tahu apa yang ada di hatimu. Jangan sampai niatan untuk menjaga diri seolah seperti merasa diri kita yang paling baik.Intinya Allah lebih tahu bagaimana kita dan apa yang terbaik untuk kita. Layakkanlah dirimu untuk menjadi yang terbaik.

Itu dia tentang cinta dan penjagaan kita terhadap kemurniannya. Namun di balik indahnya makna cinta yang seringkali disalahgunakan sebatas nafsu dan hal yang berbau nikmat saja, cinta tentulah memiliki konsekuensi yang luas dan logis. First, cinta itu adalah pengorbanan. Pasti bohong kalau cuma bilang cinta tapi tidak mau segera menikah. Itu artinya dia tidak siap berkorban untuk saat ini. Mendingan cari yang siap nikahin kamu kan? Artinya dia sudah siap berkorban untuk kehidupan selanjutnya. Masa ia kamu mau digantungin aja?

Eiitss.. berani berkorban ga cuma di awal aja dong.. sampai kamu jadi nini-nini atau aki-aki, cinta selalu dibarengi pengorbanan, baik itu untuk kehidupan suami-istri tersebut, kehidupan anak-anaknya bahkan sampai ke cucu-cucunya. Banyak pembelajaran yang saya ambil dari kedua orangtua saya tentang pengorbanan.

Saya akan bercerita tentang pengorbanan ummi dan abi untuk pendidikan saya. Saat ini saya tidak pernah membayangkan saya bisa kuliah di fakultas kedokteran di tengah kota metropolitan. Tidak tahu harus mengatakan apa lagi untuk berterimakasih kepada keduanya. Dahulu, di tengah kegalauan saya yang luar biasa, apakah saya akan menjadi apoteker atau dokter, Abi selalu meyakinkan saya bahwa saya bisa untuk menjadi dokter. Abi tidak setuju jika saya menjadi apoteker dengan alasan kontak sosialnya lebih sedikit dari seorang dokter. Ini alasan yang lumayan logis menurut saya. Namun sebenarnya ada kekhawatiran yang luar biasa saat saya memilih ini, apakah abi bisa membiayai saya? Abi hanya bilang, kalau kamu serius abi siap untuk biayain kamu. Oke fine, akhirnya saya beranikan diri untuk mencoba. Tahun pertama saya mencoba, saya gagal dan alhamdulillah akhirnya baru diterima di tahun kedua saya test.

Saat saya menerima pengumuman kelulusan dan mengabarkan kepada keduanya, raut mereka senang dan tampak sedikit bingung. Saya menangkap ada sinyal yang mengganjal dari sorot matanya. Terbukti dengan pertanyaan yang mereka ajukan setelah itu. "Oh iya, Diah udah tahu belum biayanya berapa? Nanti dicari dulu dan kasih tahu Abi ya." Saat itu keberanian apa yang coba menenangkan mereka tanpa pertimbangan: "Tenang bi,mi, ntar diah coba cari beasiswa deh."

Kini di akhir tahun kedua kuliahku, aku tengah berlibur dan kembali ke rumah. Begitu pesat perkembangan bisnis mereka untuk membiayai pendidikanku dan adik-adikku. Di belakang rumah saja tiba2 sudah ada peternakan ayam arab dan kumbung jamur. Pagi2 sekali sehabis subuh ummi dan abi sudah beraksi, setelah mempersiapkan jamur, telur dan ayam yang akan dijual, mereka memasarkannya di pasar dekat rumah atau pasar minggu di dekat kota. Padahal sebenarnya ummi bekerja sebagai PNS dan abi juga pegawai kantoran yang punya jam kerja pagi sampai sore. MasyaAllah, luar biasanya salah satu bukti pengorbanan mereka. Sebagian besar pemasukan mereka diarahkan untuk pendidikan anak2nya. Bahkan sejak aku kecil pun, aku sudah disekolahkan di sekolah yang jarak tempuhnya memakan waktu kurang lebih satu jam dari rumah. Soalnya di sekolah tersebut pendidikan agamanya juga baik dan terjamin.

Aku membaca sinyal2 agar generasi yang mereka bangun bisa lebih baik dari mereka dan memberi manfaat kepada banyak orang. Untuk itulah mereka berkorban dengan luar biasa. Ini juga yang menjadi inspirasi bagiku, bahwa membangun keluarga tidak asal2an, ada cita2 besar yang tumbuh di dalamnya. Cita2 membangun peradaban ummat dari entitas sederhana. Orang tua berperan penting untuk mempersiapkan anak2nya menjadi generasi yang dibutuhkan zaman.

Kedua, setelah pengorbanan ada yang namanya kesetiaan. Kesetiaan menurut saya tak selamanya suami istri selalu akur dan lengket. Bukan tidak mungkin pula ada fitnah yang menerjang atau godaan yang berdatangan. Setia itu tentang bagaimana caranya tetap saling menghargai, saling percaya karena kita percaya kepadaNya. Memang betul adanya sikap saling melengkapi dan memahami, toh manusia itu tidak selamanya bersikap konstan. Sangat disalahkan ketika kita percaya misalnya ibu kita adalah orang yang sabar dan saat kita mendapati beliau marah kita percaya selamanya bahwa ibu kita bukan orang yang sabar lagi. Sikap itu adalah upaya, ada saat2 dimana pribadi mampu mengupayakan dan bisa jadi suatu saat tidak sadar dan alfa untuk mengupayakan. Mana ada orang sabar tanpa UPAYA menahan diri kan?

Saya membayangkan bila ummi sendiri yang berkorban tanpa abi atau sebaliknya. Tanpa ada kesetiaan untuk saling mendukung pengorbanan, mungkin tak sedahsyat sekarang hasilnya. MasyaAllah banyak pembelajaran yang saya petik dari keduanya, salah satunya tentang cinta, pengorbanan dan kesetiaan.

Semoga Allah ampunkan dosa keduanya, beri mereka kesehatan kelapangan rezeki dan keluasan hati serta pikiran. Jaga mereka ya Allah, jauhkan keduanya dari fitnah


Monday, July 21, 2014

Rumah Cantik, Surganya Inspirasi




Sebuah kesyukuran bisa kembali ke Bengkulu setelah sekian lama mendaratkan kaki di tanah rantau. Ntah ada hal apa yang selalu dinanti, yang jelas ketika diriku sudah berada di rumah, ketenangan itu bisa berkali-kali lipat dibandingkan saat aku berada di mana pun. Rumah, yah simpel sih. Mungkin bagi sebagian orang hanya tempat singgah setelah berlelah2 beraktivitas. Tapi bagiku tidak. Baitii Jannatii. Rumahku surgaku.

Ada banyak hal yang membuatku pun takjub terinspirasi bila sudah berada di dalamnya. Bukan hanya sekedar mendapatkan inspirasi melakukan suatu hal atau pemikiran. Tapi lebih dari itu. Rumit sekali untuk dijelaskan saking indahnya. Hehe.. Salut kepada ummi dan abi yang mengkondisikannya hingga seperti ini.

Rumah cantik, rumah surga itu tidaklah semewah yang dikira. Sederhana. Namun berjuta makna. Rumah dimana tempat aku tinggal ini bukan berarti hening tanpa perdebatan dan perkelahian. Sesekali itu bahkan terjadi, atau mungkin tiap hari, utamanya antar kakak adik. Tapi itu menjadi bumbu yang dirindukan kala kita terpisah. Bahkan perkelahian dan perdebatan bisa menjadi 'sarana' yang menggiring kedewasaan berpikir. Kadang heran juga dari rumah dan didikan yang sama bisa terlahir kakak-adik dengan tipikal yang beda dan saling keukeh dengan argumennya masing2. Dahsyat!

Rumah yang dibangun dengan inspirasi ini memperkayaku dengan banyak inspirasi kehidupan: inspirasi menjadi ibu yang hebat dikemudian hari, menjadi orang tua yang punya visi yang besar dan berani mewujudkannya, menjadi orang tua teladan, inspirasi untuk memanfaatkan kesempatan, inspirasi berwirausaha, inspirasi dalam berlomba2 untuk kebaikan, inspirasi untuk berkarya dan lainnya :) Syukur tak berhingga kepada Allah dilahirkan menjadi bagian dari keluarga ini.

Tentang kepulangan ini, maka tak ingin kulewatkan sedikitpun waktu tanpa mereguh inspirasi dari dalamnya untuk kusimpan dan kubawa pulang ke tanah rantau nanti. Suatu saat nanti, akulah yang harus membuat rumah menjadi inspirasi terbesar bagi calon keluargaku nanti. Aamiin

Sunday, June 29, 2014

Tawazun alias Ballance


Semangat mae! Tawazunnya jangan lupa ya..! Syifa lagi2 mengingatkanku perihal ini. Tawazun, yah tawazun :) Jika ada seorang abid yang kerjanya hanya ibadah lantas menafikan dunia, berarti tawazunnya goyah. Sebaliknya pun bila ada seorang usahawan yang sekuat usaha merealisasikan mimpi besarnya di sudut bisnis lalu melupakan Allah dan mengingat hanya sekenanya, berarti ia terancam belum mampu tawazun.

Dalam dunia akademisi, godaan terbesar para mahasiswa/i ada di antara dua hal: jika tidak organisasi yg mengganggu akademis, akademis justru menjadi bahan yang amat dicondongkan hingga profesionalisme di organisasi jadi terlepehkan. Enjoy sajalah menjalani keduanya ^_^ Akademis adalah nutrisi utama, dan organisasi melelang cara agar nutrisi itu mampu diserap tubuh.

Yang hebat adalah godaan moody. Kadang membuat kita condong ke salah satunya. Jika sudah begini, jiwa harus benar2 kuat menyemangati diri sendiri. Jiwa harus peduli terhadap kondisi ini. Karenanya, tatkala akademis menghabisi sebagian besar perhatianku, aku menyemangati diri dengan pesan: bahwa kamu tak tahu kapan kamu dimatikan olehNya. Kamu juga tidak sungguh2 tahu bahwa kamu dibutuhkan dimana dalam berperan, bisa saja kamu memilih organisasi A, atau kamu lebih mementingkan akademis, tapi tanpa kamu nyana, bisa jadi Allah memanggilmu dalam kondisi belum berbuat apa-apa dan tidak maksimal di amanahmu. So, jangan buang2 kesempatan besar itu. Kita berjalan bukan karena 'nama'. Kita berjalan untuk mengejar 'ridho' Nya.

Pun sebaliknya ketika keasyikan organisasi menghabisi nyawa akademikku, aku harus kuat mengarahkan pandangan diriku untuk melirik lagi cita-cita panjang yang akan kutempuh. Tentang cita menjadi seorang dokter profesional, tak hanya dokter biasa. Dokter yang bermanfaat untuk ummat, sesuai dengan do'anya ummi, selaras dengan harapnya abi dan seluruh keluargaku :')

Akademis adalah bekal untuk menuju ke garis keindahan itu. Ingatlah! Allah selalu paham akan letihnya tubuh dan jiwamu. Allah tahu yang ada di pikiran dan hatimu. Semangat berusaha untuk tawazun :D

Friday, June 20, 2014

Aku Siap Mengatakan: Ya Rabb Aku Pantas Menerimanya


Jreng2... sekelumit kesibukan selalu jadi alasan yang menjadi-jadi untuk melupakannya sejenak. Padahal ia telah kugali dalam2 sebelum kesibukan itu hadir dari bilik harianku. Kehidupan yang amat menyeramkan semakin terasa saat kesibukan yang selalu jadi penentu kesibukanku. Bukan lagi aku yang berhak memilih kesibukan untuk kebaikan dunia dan akhiratku. Duuh..

Ingin berubah! Seketika kata-kata itu selalu hadir bila kejenuhan memuncak dan merong-rong menyesakkan dada si tuannya. Aku benci ketika sibuk adalah alasan yang membuatku terdiam dan tak bergerak apa-apa. Aku ingin menjadi manusia sekuat mereka Allah.. Aku ingin seperti mereka..!

Kadang aku baru tersadar bahwa kesibukan inilah jalan bagiku untuk menjadi sekuat mereka. Sadari saja: mana ada orang kuat dengan kegiatan secuil? Jam kerja mereka rata2 di atas manusia biasa. Hilir mudik ke sana kemari mengurusi beragam kepentingan yang amat rumit. Tapi mereka selalu siap sedia dengan segala konsekuensinya. Siap dengan idealisme yang mereka perjuangkan, siap berkorban dan mereka masih tetap bisa memperjuangkan ambisi mulia mereka untuk menjadi manusia berkualitas di hadapanNya.

Selama ini mungkin terlalu tersibukkan mencari-cari faktor pendukung yang mampu mencuatkan profesionalisme dalam hidup. Padahal kuncinya simpel saja: jalani hidup ini dengan maksimal dan pantaskan selalu dirimu untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan. Ketika pintamu adalah menjadi manusia yang bermanfaat, mana tahu kamu tentang perihal amanah setumpuk itu bisa jadi jalanmu untuk proyek amal yang bisa lebih besar lagi ke depannya. Ketika kamu meminta menjadi orang yang sabar, siapa kira ujianmu itu adalah jalan panjang menuju kesabaran yang indah. Bahkan ketika ambisimu juga besar pada akademis, bukanlah hal yang mustahil bagimu untuk memilih menjadi manusia2 yang full academic atau full academic + full kontribusi dengan merelakan sebagian waktu dan memperpanjang usia bangunmu?

Pantaskan sajalah dirimu menjadi manusia yang layak di hadapanNya. Mana ada manusia2 hebat menolak amanah dan mengatakan: maaf, saya fokus di sini saja! Yang ada dia selalu mencuri kesempatan sekecil apa pun untuk menyeimbangkan antara membangun kekuatan diri, memberi kontribusi dan menambah asupan diri. 3 komponen ini menjadi penting dan sama butuhnya.Jika terlalu capai berkontribusi tanpa ada gizi untuk jasad, ruhani dan akal kita tentulah capai untuk menggapai semua-muanya. Pun dalam hal membangun kekuatan diri, kita butuh refleksi menekuri perjalanan dari hari ke hari. Karena itulah muhasabah menjadi begitu penting. Muhasabah merupakan cara yang paling efektif untuk melakukan perubahan sedikit demi sedikit.

Malulah pada Allah jika diri selalu membatas-batasi karena melebih-lebihkan  kekurangan yang hadir pada kita. Jika dibandingkan dengan samudranya nikmat Allah, tentu kelelahan yang kita rasa tak sepantasnya diucapkan, kekurangan yang kita punya tak semestinya dibesar-besarkan, dan kelemahan2 yang kita punya tak sepatutnya jadi penghalang. Fokus pada tujuan dan pusatkan pada kelebihan yang Allah titipkan spesial ada pada dirimu.

#semangatH-2mingguOSCE-SOCA #semangatTawazun #SemangatMenjadiKuat #SemangatKarenaAllah

Sunday, April 27, 2014

Serial initiator team :Learn from our defeat


"Kenapa kamu mau masuk kader?", tanyanya sedikit sengak sembari menguji ketahanan mentalku.

"Karena.. karena saya ingin merubah apa yang terjadi selama ini. Sepertinya cocok dengan jiwa saya."

Yeah! Teringat petikan percakapan yang terjadi kisaran 1-1,5 tahun yang lalu. Ntah, mengapa ada jawaban yang keluar seperti itu. Nyatanya saja, keadaan yang sudah mendarah daging itu dalam pemilihan sebulan lalu tak mampu tim kami lakukan. Kami berniat merubah kekauan dalam organisasi yang semestinya bermesra dengan keakraban dan produktivitas, namun nihil. Apalah daya. But.. it's my special moment for us and especially for me.
_________________________________________________________________________________

Sepulang penentuan Ketua BEM Fungsional malam itu, tim kami berkumpul. Ada Aku (Mai), Alief, Saroh, Arvi, Baqo, Lina, Rakh, dan terakhir Fathur. Camp utama kami menjadi sasaran kegalauan hati-hati yang tengah berkecamuk pasca kekalahan.
"Mai, ada kata-kata motivasi ga? Gue masih panas nih! Masih ga terima. Mana gue tipe orang yang susah ikhlas dan lama banget buat menerima keputusan yang jelek menurut gue."
"Iya Mai, biasanya lu yang selalu punya kata2 inspirasi gitu."
"Huffhh.. Masih sedih tau Lin, Vi.. Emang bisa?"
Akhirnya semua sibuk menekuri ekspresi kekecewaan dengan cara masing2. 
_________________________________________________________________________________

Tiba2 Fathur muncul dengan ekspresi sok pahlawannya: "Malam ini semuanya udah harus selesai guys. Silahkan kalau kalian mau menumpahkan kekecewaan kalian dulu, tapi nanti setelah itu kita mesti membahas progress kita gimana ke depannya. Jangan sampai seperti ini melulu. Gimana? Setuju ga?"

"Gue setuju!"

"Iya, bener juga lo Thur!"

-Sesi curhat dimulai dan kekesalan pun tertuang meski mungkin sedikitnya masih ada kesedihan dari hati terdalam kami-

Saat pertengahan sesi, seorang Rakh tampil bak guru bijak: "Guys! Seperti yang gue bilang kemaren, pemimpin itu udah ditentuin sama yang di atas ada di Lauh Mahfuznya. Mau lo obrak-abrik sekuat tenaga lo pun lo ga bakalan mampu. Coba deh sekarang kita pikirin dengan hati yang bersih. Bayangin ya! Bayangin aja nih kalau seandainya tim kita yang menang, bisa aja kasus yang terjadi 2010 terjadi lagi di angkatan kita. Angkatan kita berserakan. Tapi Allah memilih kita untuk kalah, karena kita siap untuk menerima kekalahan. Itu yang penting."

"Gue, dengan jujur gue bilang gue salut sama tim ini. Kita duduk bareng bermalem-malem buat ngerumusin sistem yang terbaik buat bem kita dan 3 organisasi yang ada di pspd. Tapi kita mesti inget lagi apa yang dibilang temen kita kemaren, kita di sini niatnya karena Allah bukan untuk menang."
_________________________________________________________________________________

PLAK. Bener juga. Rakh seolah2 mengingatkan gue kembali ke pemahaman yang sebenarnya. Ya, untuk Allah. Sekalipun untuk sesuatu yang baik kita tidak boleh memaksakan kehendak kita. Ada Allah yang MAHA Tahu, kita tidak berhak menjadi SOK Tahu.

Ini menurut gue masuk dalam salah satu bagian dari proses yang harus dipersiapkan oleh pengkader: KADER YANG SELALU SIAP DALAM POSISI MENANG ATAU KALAH.

Memberi tahu setiap orang untuk dalam posisi yang tidak menyenangkan memang rumit. Toh, kita sendiri bisa saja belum mampu menepuk dada kita sendiri untuk bersabar. Inilah salah satu tantangan untuk membina diri kita dan orang-orang yang ada di sekitar kita untuk berpikir THE OTHER SIDE. 
Yang ideal menurut kita belum tentu baik menurut orang lain dan belum tentu juga baik menurut Allah. Why? Kita terlahir berbeda dan paparan yang diterima juga berbeda sehingga pola berpikir masing2 individu pun berbeda. Apakah pantas kita memaksakan diri kita paling benar karena kita merasa yakin kita telah lama berada di dalam lingkungan yang paling baik dari kondisi rival kita? Jawabannya: NO!

Sunday, March 30, 2014

Semua Ada Prosesnya


"Mai, saya kan beda dari kamu. Saya itu orangnya manja dan kekanak-kanakan. Bagaimana ya?"
"Aku sekarang kayak gini ada prosesnya lho Jan, ga langsung instan juga. Aku hanya bisa bilang aku sangat bersyukur dianugrahi banyak aral sejak masa kecilku dulu.", timpalku dengan senyum.

Saya yakin banyak orang yang paham juga bahwa apa yang dirasakan seseorang di masa kininya apa tah kesuksesan maupun kesulitan adalah sebuah bagian dari masa berurutan yang dulu dialaminya. Seorang yang mampu memenangkan medali penelitian misalnya, pasti sebelumnya adalah seorang penggiat buku yang kemudian melakukan eksperimen panjang dan kemudian baru mempublikasikan hasilnya. Mustahil ia menggunakan prinsip 'Kun' milik Allah bukan?

Sayangnya banyak pingin yang diinginkan tanpa mau menyicipi proses sulitnya.Silahkan dibayangkan: bagaimana kita bisa menjadi orang yang sabar bila tidak diuji? Bagaimana pula mau tahan banting bila sedikit diberi masalah sudah ingin lari dari kenyataan. Bagaimana mau pintar bila belajar tak beriring keikhlasan dan malas2an? Bagaimana mau diterima orang bila diri selalu menuntut banyak pada orang yang membersamainya?

Guys, life is process. But, the process is not simple and always continue until your death.

Seorang anak kecil berkata: "Mama, aku ingin naik sepeda. Aku ingin bermain lebih jauh."
Saat beranjak remaja ia berkata: "Ayah, aku ingin bisa mengendarai motor.Agar tak sulit bila ada keperluan di luar yang harus aku selesaikan."
Selanjutnya: "Ayah, aku ingin mengendarai mobil, bahkan bila perlu aku yang akan menyetir untuk ayah."

Wednesday, February 26, 2014

Bangkit..!!



Sepertinya kali ini aku butuh bicara dengan orang lain. Sudah memuncak perasaan yang terpendam di dadaku bertahun-tahun. Namun aku tidak tega menjadikan orang lain sebagai pelarian atas masalah-masalahku. Orang tuaku, mereka terlalu idealis jika harus mereka yang menyelesaikan masalah kami. Kalian sudah dewasa! Mungkin begitu yang ada di pikiran mereka. Sehingga kadang kami tak lebih sebagai seorang yang bias disuruh-suruh saja saat kembali ke rumah. Mereka juga akan senang mengetahui anaknya punya banyak perubahan di negeri rantaunya masing-masing.

Kadang aku berpikir, andai aku punya kakak yang bias jadi tempatku menangis dan menceritakan semua masalahku. Tapi itu tak mungkin! Tidak mungkin mengharapkan sesuatu yang tak mungkin lagi terjadi. Huuffh, di satu sisi memang aku juga meyakini aku belum menjadi kakak yang baik bagi adik2ku dan juga tak mampu menjadi humas yang baik di keluargaku. Ntahlah, duniaku serasa sempit. Kadang aku terlalu introvert, enggan bergaul dan asyik masuk dengan duniaku sendiri. Tapi kadang aku akan kesepian bersama tumpukan riwayat masalahku yang tak habis-habisnya kuselesaikan sendiri. Namun batinku selalu menguatkan,selalu ada Allah mbak... Allah tempat yang paling nyaman bagiku untuk menumpahkan segalanya. Kadang aku suka kesal dan benci saat aku menceritakan masalahku. Ada saja yang tersebar dan kemudian ikut-ikutan menyelesaikan masalah. Padahal dia sudah kupercaya, tapi ternyata.. Yah.. itulah manusia, kadang dia tidak tau bagian mana dia harus bercerita tentang maslaah orang lain kepada orang lain lainnya.

Bagi sebagian besar wanita, curhat dan menumpahkan segala rasa kepada lawan jenisnya begitu mengasyikkan. Ya sih, sebagian hatiku mengiyakan. Kita seolah bagai ratu yang akan ditolong pulang di tengah perjalanan. Kesempatan ini sebenarnya datang berulang kali kepadaku. Hmm.. mungkin saja dia bisa menyelesaikan masalahku.. Tapi, oh no..! Bagi seorang aku yang sangat idealis, hal itu seperti menjebak diri dari satu kandang singa ke kandang singa yang lebih galak. Bisa saja ia menjadikan masalahmu sebagai jembatan terikat yang membuatnya mampu menguasaimu. Laki-laki di balik kebaikannya kadang juga menyebalkan!

Aku tidak mungkin berkata Tuhan tidak adil. Terlalu banyak bukti yang membuatku percaya bahwa Dia selalu adil, Ia selalu membuatku terharu setelah Ia menunjukkan sesungguhnya inilah jalan terbaik untukku. Mungkin kejadian ini yang membuat pola pikirku lebih dewasa dari usiaku, meski kadang sifat kekanakanku muncul bila bertemu teman yang mampu memecah kebekuanku.

Tidaaak…. Pergilah semua keharuan yang membuatku selalu bernostalgia dan melalaikan waktu. Aku masih punya mimpi! Aku masih punya harapan! Aku masih punya Allah yang selalu mendukung perjuanganku. Aku tidak ingin letih. Aku ingin seperti Alif Fikri –pemeran utama novel trilogy Ahmad Fuadi. Aku ingin berlari mengejar segala ketertinggalan dan melesatkan ghirohku untuk berjuang sebagai penolong agamaNya dengan menjadi tenaga medis professional, menjadi penulis dan intinya hamba yang bermanfaat.

Friday, November 1, 2013

Jika Tak 'Sebaik' Dulu



Saat menulis postingan ini aku tegang. Apakah aku bisa menulis 'sebaik' aku menulis dulu? Ternyata gelar 'tulisan baik' yang digelarkan teman dan orang2 sekitarku dulu selama ini telah menghambat laju niatku untuk memberi manfaat lewat tulisan. Seolah-olah aku bukanlah penulis jika aku menulis tak sebagus dulu. Seolah-olah bukanlah memberi manfaat jika tak mampu menulis dengan kata-kata indah.

Huufhh.. tarikan napasku mengenaskan. Meski tegang, layaknya aku buang jauh-jauh! Aku tak mencari ridho dari 'wow' nya 'mereka' terhadap karyaku. Buah kemanfaatan itu bukan ranah kita untuk memplotnya. Semoga niatanku untuk menulis dengan 'sebaik-baiknya niat' sajalah yang ada. Semoga Allah memberkahi diriku, memberkahi langkahku dan memudahkan urusanku agar aku selalu diberi ruang2 'sempat' menulis sesuatu yang aku dapati setiap harinya.

Setidaknya beberapa quote ini harus membangkitkan semangatku untuk menulis lagi! Dan LAGI!

“Kalau usiamu tak mampu menyamai usia dunia, maka menulislah. Menulis mperpanjang ada-mu di dunia dan amalmu di akhirat kelak.” 
― Helvy Tiana Rosa

“Menulis adalah memahat peradaban.” 
― Helvy Tiana Rosa

“Belajar menulis adalah belajar menangkap momen kehidupan dengan penghayatan paling total yang paling mungkin dilakukan oleh manusia.” 
― Seno Gumira Ajidarma, Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara

“Ketika sebuah karya selesai ditulis, maka pengarang tak mati. Ia baru saja memperpanjang umurnya lagi” 
― Helvy Tiana Rosa

Thursday, August 22, 2013

Serial Adik Kakak: Tanah Rantau

3 anak rantau, 1 anak rumahan, datuk & nenek, lebihnya nyempil
Aku tau de, hidup itu memang berat. Sekalipun orang-orang di sekeliling kita mengira hidup kita berkecukupan. Padahal jika saja mereka tahu ayah dan ibu kita benar-benar banting tulang untuk membiayai mewahnya sekolah di perantauan. Ya, mewah dengan kemahalannya. Padahal fasilitasnya belum seberapa bagus. Aku tahu mungkin kau kesal ketika pihak sekolah menyuruhmu ini itu untuk menyelesaikan komplikasi organisasi di sekolahmu, kehilangan barang-barangmu karena disita atau dicuri, kepelikan karena dilanda kanker uang bulananmu, masalah teman-temanmu dan tentu saja mungkin kau mulai merasakan pusingnya jatuh cinta.

Aku tahu itu de, aku sebagai mahasiswa rantau pun merasakan itu. Semua yang kau rasakan aku paham betul. Bahkan mungkin aku lebih pelik lagi karena emosionalku amat peka. Sedikit saja kasus mulai ruwet. Tapi tahukah kau maksud kemewahan yang ingin ummi dan abi berikan kepada kita? 

Yahh.. kau mungkin sekarang sudah mulai merasakan bekas kemewahan itu. Kau merasakan kemandirian di saat yang lain berpongah dalam buaian rumah hangat dan bimbingan orang tua. Sementara kita merasakan segalanya sendiri, kegetiran dan kesedihan. Diam-diam merahasiakannya dari siapa pun dan meminta agar pertolonganNya lekas datang.

Ada lagi yang kulihat saat liburan ini kita dipertemukan kembali di ruang hijau damai rumah kita. Betapa keahlianmu makin bertambah, progress kalian begitu cepat de.. Kalian mengejar segala apa yang kalian bisa dapatkan di tanah rantau sana. Seni menggambar, komat kamit beatbox yang sangat memekakkan telinga, leadership, teknik komunikasi, agen motivator, keahlian hacker, potografer, dll nya yang jauh lebih banyak dari ku. Salut..!! Kau benar2 kebanggaan. Alhamdulillahnya progress kalian di bidang agama juga semakin baik. Hafalan kalian bertambah, wawasan agamnya juga begitu. Bahkan aku senang saat kita ribut-ribut masalah Mesir bersama dan berdiskusi banyak hal.

Aku menyukai sekali suasana itu. Bahkan, hingga sebesar ini kita tak pernah lupa aksi lucu-lucuan, konyol-konyolan, menciptakan kegaduhan, dan meski begitu, kita adalah teamwork lokal yang bisa diandalkan. Hmm... 

Itulah de.. perjuangan kita yang sekarang: perjuangan di tanah rantau. Banyak hal yang ummi dan abi inginkan dari keberadaan kita yang jauh dari sisi mereka. Dalam novelnya Merry Riana mengatakan: ketika kita dihadapkan pada kondisi rumit bin sulit, segala sesuatu yang sebelumnya tersembunyi bisa terekspose blak-blakan. Itu pun tergantung pikiran kita juga, jika kita menyerah, mungkin pilihannya hanya satu: kembali ke peraduan dalam pelukan hangat ummi dan abi. Atau yang sering ummi bilang: 'berada dalam ketiak ibu'. Tapi aku yakin kita semua mampu bertahan dan tegar. Pilihan yang sebelumnya adalah pilihan yang sangat memalukan. Aku yakin banyak hal yang memacu perkembangan luar biasa dalam diri kita ketika kita jauh dari zona nyaman kita.

Di suatu hari yang dulu, do'aku ketika aku ingin pergi jauh dari tanah kelahiran kita adalah agar aku bisa leluasa dari segala hal yang menghambat gerakku. Mencari suasana kemandirian yang akan membuat aku lebih matang dan semakin dewasa. 

Namun, ada satu hal yang tak boleh kita lupa. Kita harus birrul walidain. Kau ingat apa kata ummi? 'Tau mengapa sekalipun nenek dan datuk mampu, abi tetap menyimpan sedikit rezeki untuk mereka?", tanya ummi suatu ketika. "Karena itu salah satu bentuk perhatian abi pada orang tuanya. Sekali pun tak setara dengan besarnya pengorbanan dari orang tua yang memang sekali-kali tidak akan pernah terbayarkan." Ya, Tak kan pernah terbayarkan de...

Ingat ya... mari kita ingat bersama.. :)

Hmm... aku sering tersimpul lucu karena ternyata kita punya kebiasaan yang sama: menulis diari. Aku senang kebiasaanku bisa tertular ke kalian juga. Di sanalah tempat terbebas kita menuangkan segala hikmah kehidupan yang Allah bentangkan untuk kita, tempat merefleksi diri dan menuliskan cita terang seterang matahari. (Maaf ya.. aku kepo sama diarinya yang ketinggalan, jadi aku baca semua ceritanya. hihihi.. \ kakak yang ga sopan banget ya?)

Udah dulu deh postingnya, nytar disambung lain waktu ya de.. :D 

Tuesday, August 20, 2013

Menuju Mimpi: Studi ke Luar Negeri


Ahad yang lalu tidak sengaja berbincang dengan seorang perempuan yang baru saja menyelesaikan studi S1 nya. Aku lupa siapa namanya dan belum berkesempatan mendapatkan kontaknya. Karena saat itu kami hanya  bertemu singkat pasca aksi solidaritas peduli mesir di persimpangan Masjid Jami'. Saat itu aku kehilangan satu momen untuk bertanya lebih dalam kepadanya tentang BEASISWA LUAR NEGERI. Ya, Beliau salah satu kandidat yang akat melanjutkan studi pasca sarjananya ke Istanbul, Turki. Salah satu target negara impianku.

Aih.. tak apalah lupa tentang siapa dia dan bagaimana bisa mendapatkan kontaknya. Tapi setidaknya pertemuanku dengannya kali ini mengaktifkan kembali sel-sel memoriku tentang impianku untuk keluar negeri. Yaa... Aku sangat ingin sekali ke luar negeri, keluar dari batas tapal negara Indonesia dan belajar banyak hal di negara-negara yang akan aku sambangi nanti. Beberapa negara yang sangat besar keinginanku untuk ke sana adalah: Arab Saudi (haji dan umroh), Turki (melihat berbagai macam peninggalan sejarah kejayaan Islam), Mesir (negeri para nabi), Palestina (tanah yang disucikan) dan dua negara selanjutnya adalah tujuan studi pasca sarjanaku :Jepang dan Jerman.

Memang sih, jika dibilang perjalananku mungkin masih akan sangat panjang untuk melanjutkan studi di luar negeri karena harus menyelesaikan studi pre-klinik dan klinik di Fakultas Kedokteran UIN Syarif Hidayatullah selama lebih kurang 5 tahun lagi. Tapi tak ada salahnya meniti mimpi dari sekarang dan  memenuhi pikiranku dengan hal-hal yang penuh semangat.

Aku terinspirasi menulis ini setelah berkelana ke blog kakak kelasku : Kak Dipta yang selalu semangat mengejar mimi-mimpinya. Nah, kebetulan beliau juga memposting hal yang serupa. Di sana ada web menarik terkait beasiswa luar negeri. Coba dibuka di http://motivasibeasiswa.org/ . 

Dalam postingannya yang lain, kak dipta men-share sebuah buku berjudul " The Devine Message of DNA: menemukan Tuhan dalam Gen Kita. Buku yang ditulis oleh ilmuwan Jepang bernama Kazuo Murakami, Ph.D tersebut salah satu isinya menguraikan bahwa kode gen di dalam tubuh kita itu punya ciri on & off. 

Akhirnya setelah saya baca resensi dari beliau (Kak Dipta), saya baru mengetahui bahwa normalnya, kode gen positif lah yang akan aktif sementara yang buruk dan berbahaya tidak diaktifkan. Nah, salah stau cara yang bisa dilakukan untuk mengaktifkan kode gen positif di dalam tubuh kita adalah dengan 'BERPIKIR POSITIF'. Ini seolah seperti pembuktian ayat agung-Nya yang berbunyi: "Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku."

So bersangka positiflah untuk mencapai mimpi2 tersebut, semoga Allah mengamini apa yang kita cita-citakan. Aamiin. Semangaaaattttt....!!!!
Copyright © 2014 Mahdiah Maimunah